Rabu, 25 Desember 2013

Drama 2 tahun 11 bulan :))


Agak gimana gitu ya kesannya kalo pake kata drama. Soalnya gini. Meski saya (merasa) sudah mempelajari tentang ASI dan menyusui, pada prakteknya selalu saja ada yang mengganjal. Hasil ASIP yang naik turun dan ditambah acara kejar tayang. Belum lagi masih ada saja orang-orang di sekitar yang belum mengerti, belum mendukung bahkan terkadang sampe jadi menjelek-jelekkan ASI. Nah, inilah yang bikin kegiatan menyusui saya menjadi sebuah drama, termasuk saat saya ingin menyapih Danisa dengan metode weaning with love.

Jumat, 15 November 2013

..................... :'(

Sesuatu akan menjadi sangat berarti ketika ia telah pergi...

Saya hanya bisa terdiam membaca sms dari ibu subuh tadi. Mbah Mul meninggal dunia.

Mbah Mul yang 'ngopeni' waktu saya kuliah di Surabaya dulu. Mbah Mul yang selalu mengantar dan menjemput saya di bandara Juanda. Mbah Mul selalu saya repotkan. Menginap di rumah sakit saat saya diopname, sibuk bolak-balik Surabaya-Juanda karena keteledoran saya lupa membawa tiket, ikut menemani saya pulang ke Lombok waktu pake bis.

Mbah Mul yang menjadi saksi waktu saya menikah.

Setelah itu, saya tenggelam dalam arus kehidupan sendiri.  Sedangkan mbah Mul selalu rajin mengirimi saya sms saat menjelang puasa dan hari raya. Sedihnya, saya lupa kapan terakhir kali saya menelepon mbah Mul. Sekedar bertanya kabarnya. Sekedar ngobrol mengenai kondisi terakhir kesehatannya.

Saya lupa sampai sms dari ibu saya baca subuh tadi..

:'(

Mbah Mul saat menjadi saksi waktu saya menikah :')


Mbah, hanya doa yang bisa Ika panjatkan untuk Mbah....... Maafkan Ika ya Mbah.....

*nangis

Jumat, 08 November 2013

Ya terserah sih....

Kemarin saya membaca artikel di The Urban Mama. Artikel lama yang bercerita tentang perjuangan seorang ibu yang berusaha memberi ASI eksklusif untuk anaknya. Dimulai dari bayinya yang tidak mau menyusu pada putingnya yang datar, bertemu dengan konselor laktasi yang kurang menyenangkan, hingga akhirnya ia memberi susu formula saat anaknya berusia 7 bulan. Ibu itu mengeluhkan tentang pendapat orang-orang di sekitar yang seakan menyalahkannya mengapa ia memberi susu formula. Orang-orang yang ia sebut sebagai 'nursing nazis'.

Serem ya istilahnya....

Artikel tersebut banyak menuai komentar yang mendukung penulisnya. Yang membuat saya sedih adalah ketika membaca salah satu komentar dari artikel tersebut. Ada yang mengutarakan komentar seperti ini: "......toh susu formula kan bukan racun...."

:'(

Menurut pandangan saya, komentar tersebut seakan memberi 'ruang' untuk memberikan susu formula pada anak.

Iya sih susu formula bukan racun yang bikin kita tewas dalam waktu singkat. Tapi dengan mengetahui banyak masalah yang timbul di kemudian hari akibat pemberian susu formula (disadari atau nggak), saya nggak tega kalo melihat ada anak yang dikasih susu formula.

Danisa pernah merasakan susu formula. Saat itu saya putus asa dengan hasil ASIP yang makin seret saat Danisa berusia 10 bulan (ini salah saya yang tidak rajin merah ASI setelah ia berusia 6 bulan). Pertambahan berat badannya juga cenderung melambat. Ditambah waktu itu  ia ogah-ogahan makan. Yang paling bikin sedih, semua orang mengatakan Danisa kurus.

Padahal kalo sekarang saya melihat foto-foto Danisa pada waktu itu, badannya oke-oke aja kok. Di grafik KMS memang plot berat badannya berada pada grafik hijau muda. Emang nggak gemuk sih, nggak chubby yang bikin gemes kayak bayi di iklan-iklan.

Semua hal tersebut seakan memberi jalan bagi mbah kakung yang sejak awal kelahiran Danisa selalu meminta saya untuk memberi Danisa susu formula. Saya sedih. Saya tidak bisa mempertahankan keinginan saya untuk tidak memberi Danisa susu formula.

Alhamdulillah... Keinginan saya itu diberi 'jalan keluar' oleh Allah swt. Setelah hampir 2 bulan mengkonsumsi susu formula, Danisa mencret!  Karena sejak lahir Danisa jarang sakit, peristiwa mencret ini cukup membuat heboh di rumah. Yess!! Ini jadi alasan saya untuk menghindarkan pemberian susu formula sejauh-jauhnya dari Danisa.

Mbah kakungnya pun jadi berhenti menyuruh ngasi sufor. Kapok ngeliat cucu pertama kesayangannya itu mencret :))

Selanjutnya, alhamdulillah saya dipertemukan dengan akun twitter Erikar Lebang. Dari situ saya tau bahwa susu apapun selain ASI tidak diperuntukkan untuk tubuh manusia. Jadi semakin kuat buat menangkis yang nanya-nanya kenapa Danisa nggak dikasi susu formula.

Sekarang, melihat komentar "...toh susu formula bukan racun....." beneran bikin saya nyesek. Yah..mungkin ia belum tahu ya..

Dan kalo memang tetap ingin memberi susu formula, ya terserah sih.... :)

Kamis, 07 November 2013

Curhat Petugas Promkes: Bukan Konselor Tapi 'Nekad' Bikin Kelas Menyusui



Saya bukan konselor laktasi. Saya bahkan tidak pernah mendapat pelatihan apapun mengenai seluk beluk ASI dan menyusui. Saya hanyalah petugas promosi kesehatan di puskesmas yang sangat cemas melihat tren penggunaan susu formula di masyarakat. Pengetahuan saya tentang ASI dan menyusui hanya saya dapat dari pengalaman saya menyusui Danisa hingga kini usianya 2 tahun 10 bulan. Selama 2 tahun 10 bulan, saya belajar tentang ASI dan menyusui. Terhitung telat menurut saya. Seharusnya, usia saya belajar jauh lebih tua dari usia Danisa. Ya, saya baru mempelajari ASI dan menyusui secara lebih dalam saat Danisa sudah lahir.

Perasaan ‘saya bukan konselor laktasi, saya tidak pernah mendapat pelatihan mengenai ASI dan menyusui’ inilah yang menjadi ganjalan hati saya saat saya akan menjalankan program kelas edukASI di puskesmas tempat saya bekerja. Perasaan takut tidak mampu membawakan materi dengan baik terus saya pikirkan.

Kelas edukASI ini adalah usulan kegiatan yang saya ajukan di puskesmas. Sebenarnya, saya ingin di Mataram ada kelas edukASI yang diprakarsai oleh AIMI. Sedih rasanya melihat kota-kota lain sudah punya kegiatan kelas edukASI, tapi Mataram yang ibukota provinsi Nusa Tenggara Barat ini belum punya. Kalah sama Tegal dan Cilacap :(

Namun, untuk mengahdirkan kelas edukASI dengan kurikulum AIMI, tentu harus ada kelompok AIMI cabang Mataram terlebih dahulu. Bukan pesimis, tapi saya rasa untuk memulai membentuk AIMI cabang Mataram rasanya butuh waktu yang agak lama. Kebetulan, Desa Siaga kelurahan Rembiga (Desa Siaga yang sering disebut-sebut paling top se-NTB) ingin memiliki program unggulan lain selain program donor darah. KEBETULAN lagi, kelurahan Rembiga adalah kelurahan di wilayah Puskesmas yang cakupan ASI eksklusifnya paling rendah. KEBETULAN LAGI, ada dana Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) yang dapat membiayai kegiatan inovasi di masyarakat. Maka, saya ajukan usulan kegiatan kelas edukASI untuk wilayah kelurahan Rembiga.

Tantangan pertama yang muncul adalah menjelaskan maksud dan tujuan program ini karena sudah ada kelas ibu hamil - yang tentu di dalamnya sudah ada materi mengenai ASI dan menyusui. Argumentasi saya adalah kalo kelas ibu hamil, pesertanya adalah ibu hamil saja. Nah, kalo kelas edukASI ini pesertanya tidak hanya ibu hamil. Bisa suami, nenek, tetangga sekitar, ibu-ibu lain, atau para remaja. Kenapa? Karena salah satu faktor keberhasilan menyusui adalah adanya kelompok pendukung (support group) untuk ibu menyusui. Jadi, pengetahuan dan pemahaman tentang ASI dan menyusui tidak hanya dimiliki oleh ibu hamil, tapi dimiliki pula olah orang-orang disekitar ibu hamil.

Tantangan kedua adalah ego program. Saya sadar betul, masalah ASI, ASI eksklusif, menyusui, adalah bukan ranah program promosi kesehatan. Ini adalah ranah program KIA dan program gizi. Saat merencanakan dan menyusun anggaran untuk kelas edukASI ini, sebelumnya saya berdiskusi dengan teman-teman di kedua program tadi. Saya sempat merasa kesal. Kelas edukASI ini dianggap tidak perlu karena materinya sudah diberikan pada kelas ibu hamil, dianggap hanya mengulang-ulang. 

Tantangan ketiga adalah perasaan saya tadi di atas. Jujur saya minder dan takut. Bagaimana jika nanti ada pertanyaan yang tidak bisa saya jawab? Bagaimana jika saya tidak mampu menguasai materi? Bagaimana jika…….

Tapi, kegelisahan saya melihat di sekitar banyak bayi yang tidak mendapatkan haknya akan asupan nutrisi terbaik -yaitu air susu ibunya sendiri- sudah tidak bisa dibendung lagi. Semoga Allah swt memberi kelapangan dan kemudahan langkah, amiiiiinnn..

Salam ASI!

Senin, 30 September 2013

Test Pack Positif, Trus Ngapain??




 Niat awal bikin tulisan ini adalah ingat bahwa selama hampir 3 tahun saya menjalani peran sebagai seorang ibu, begitu banyak hal yang saya pelajari. Sebenarnya, begitu kita divonis positif hamil oleh hasil test pack (dan selanjutnya disampaikan oleh bidan atau dokter), saat itu jugalah diri kita sebagai perempuan 'berubah'.

Jangankan bentuk tubuh dan ukuran baju, perilaku kita pun juga bisa berubah. Dari yang ngiler biasa aja kalo ngeliat dagang bakso lewat, sekarang pas hamil bisa ngileeeeeerrrr luar biasaaaaa banget. Labelnya sih perilaku kayak gitu itu 'ngidam'. Kalo nggak terpenuhi, biasanya ntar ngerengek-ngerengek sama suami dengan ancaman "nanti anaknya jadi ileran lho."

Klasik banget.

Sebenenernya ancaman "ntar anaknya jadi ileran" itu siapa yang mulai sih?

Kamis, 15 Agustus 2013

Indonesia is back! INDONESIA IS BACK!!!

Judulnya nggak nyante ya? Iya.

Gimana mau nyante. Akhirnya gelar juara dunia itu kembali. Setelah 6 tahun lamanya, setelah masa-masa kegelapan nan menyedihkan.

Jadi inget Olimpiade London 2012 lalu. Tradisi emas Indonesia yang bertumpu harapan pada Owi/Butet harus terhenti. Belum lagi ditambah skandal ganda putri. Greysia Polii/Meliana Jauhari harus kena hukuman bareng ganda China dan Korea.

Surem pokoknya.

Minggu, 28 Juli 2013

ASI, Sebuah Perjuangan (part 6): ASI Perah Kejar Tayang

Doooooohhh, ini nulis tentang perjalanan ngasih ASI ke Danisa aja judulnya kayak sinetron Tersanjung ditambah Cinta Fitri ya..

Etapi emang beneran. Perjalanan untuk memberi ASI itu emang panjang. Setidaknya buat saya sih. Niat memberi ASI juga menuntun saya untuk belajar lagi. Sampai saat ini pun, masih banyak yang belum saya ketahui tentang seluk beluk per-ASI-an. Saya memberi ASI pada Danisa juga kisahnya nggak sempurna-sempurna amat, nggak se-sukses seperti testimoni di akun @aimi_asi. Tapi semoga itu menjadi penyemangat saya untuk selalu belajar, insyaAllah..

Lanjutan dari tulisan ini, yaaaakkkk petualangan ngASI Danisa berlanjut ke babak baru: emaknya mulai ngantor dan berjuang untuk stok ASI di rumah.

Sabtu, 11 Mei 2013

Melawan Arus (2): Food Combining (part 2)

Setelah di bagian pertama saya bercerita tentang sarapan buah, sekarang saya lanjutin lagi ceritanya. Bagian yang kedua ini tentang "kalo udah selesai masa sarapan buah, trus makan apa?" Seperti yang sudah saya jelaskan sedikit di bagian sebelum ini, Food Combining merupakan salah satu pola makan sehat yang mengikuti dan menyesuaikan dengan sistem dan ritme kerja organ pencernaan. Pagi hari organ pencernaan tidak perlu dibebani dengan asupan yang berat dicerna, maka setelah jam 12 siang, maka organ pencernaan siap untuk mencerna makanan yang 'berat-berat'.

Eeeeeiiitttt..tapi bukan makan sembarang makanan.


Kamis, 21 Maret 2013

Melawan Arus (2): Food Combining (part 1)

Sudah hampir 9 bulan saya mempraktekkan makan dengan metode Food Combining. Ketertarikan saya akan metode ini ya sejak mengikuti (follow) akun Twitter erikarlebang. Setelah mengikuti tagar #KibulanSusu, saya tertarik dengan salah satu tema twit Erikar yaitu #FoodCombining.

Banyak yang mencoba mencegah saya untuk mempraktekkan metode makan Food Combining ini. Salah satu kalimat pencegahan paling populer adalah:

"Erika, kamu kan udah kurus. Ngapain diet lagi??"

Haha. Gotcha! Berarti selama ini yang ada di benak orang kebanyakan adalah mengatur pola makan (yang biasanya disebut 'diet' dimana-mana) adalah untuk menjadi kurus. Badan kurus atau langsing dijadikan tujuan utama, bukan SEHAT. Padahal, tubuh yang sehat nantinya akan mampu mengatur berat badannya sendiri.

Sabtu, 09 Maret 2013

Melawan Arus (1) : #KibulanSusu

Tagar #KibulanSusu ini pasti udah nggak asing buat para followers erikarlebang. Tagar ini kalo saya diterjemahkan secara bebas artinya adalah: susu itu berguna untuk kesehatan? Ngibul tuh!
Ohya, susu yang dimaksud disini adalah segala jenis susu non Air Susu Ibu (ASI). Ya susu sapi, susu kambing, susu kedelai, dan kawan-kawan. Apapun bentuknya. Formula, UHT, dan lain-lain.

Melalui twit-twitnya, erikarlebang memberi penjelasan bahwa susu sapi dan susu lainnya sebenarnya tidak diperlukan oleh tubuh manusia. Pasti banyak yang nggak setuju sama kalimat yang saya garis bawahi tadi. Reaksi mayoritas yang timbul adalah:
1. Susu kan bagus buat kesehatan. Nutrisinya lengkap!
2. Susu itu tinggi kalsium. Bagus untuk pertumbuhan saat masa kanak-kanak dan mencegah osteoporosis.

Di sini saya tidak akan menjelaskan secara ilmiah kenapa dan bagaimana susu itu sebenarnya tidak diperlukan oleh tubuh manusia. Kalo pengen tau secara lebih detil dan ilmiah, sila meluncur ke webnya Erikar aja ya, di sini.

Di sini saya hanya mencoba menuliskan apa yang ada di kepala saya dan kondisi di sekitar yang berkaitan Kibulan Susu. Siapa tahu, kondisi yang saya tuliskan nanti juga terjadi di sekitar Anda.

Awal ketertarikan saya pada #KibulanSusu adalah tentang susu formula yang tidak bisa menggantikan posisi ASI bagi pertumbuhan dan perkembangan bayi dan balita, kecuali dalam kondisi medis tertentu. Setelah mengetahui tentang ASI, ASI Eksklusif, MPASI, pola makan sehat serta menyapih ASI, keingintahuan saya bergerak ke arah ini:
Apakah setelah selesai masa menyusui (disapih), anak-anak perlu minum susu?

Senin, 04 Maret 2013

ASI, Sebuah Perjuangan (part 5): Bye Bye Cuti...

Setelah bercerita di part 4, sekarang ceritanya berlanjut tentang perjuangan memberi ASI Eksklusif berikutnya: masa cuti saya habis dan saya harus segera kembali bekerja.
Saat ini Danisa tepat berumur 3 bulan. Masa cuti saya memang pas dimulai saat saya melahirkan. Waktu lahirnya Danisa nggak diduga sebelumnya. Jadi, alhamdulillah saya punya waktu yang lebih panjang bersama Danisa di rumah.

Tapi, waktu selalu terasa cepat berlalu ketika kita menyadari sesuatu telah terlewat. Saya harus kembali ke kantor. Ada kekhawatiran meninggalkan Danisa, terutama mengenai asupan ASI-nya. Hingga saat saya akan kembali bekerja, Danisa belum mahir minum ASI perah (ASIP) dengan media apapun. Maksudnya belum mahir, Danisa nggak betah minum ASI dengan media-media itu. Kebanyakan dia mainkan, atau dilepeh-lepeh. Huhuhuhu...ASI udah capek-capek diperah malah dibuang-buang sama Danisa...

Untuk yang menjaga Dansia selama saya di kantor, saat itu saya tidak khawatir. Saya sudah dapet pengasuh? Nggak. Saya tidak khawatir karena Danisa akan dijaga oleh bapaknya sendiri. Tenang kan :D

Saat itu, kakak baru saja resign dari perusahaan tempatnya bekerja. Kakak resign karena diterima menjadi pegawai negeri sipil. Surat keputusan (SK) pengangkatan CPNS (yah tau sendiri lah..) keluarnya bisa makan waktu berbulan-bulan dari pengumuman kelulusan CPNS. Jadilah kakak di rumah menjaga Danisa sambil menunggu SK CPNS-nya keluar.

Kakak sudah saya bekali dengan keterampilan mengelola ASIP beku di freezer. Saya wanti-wanti agar memperhatikan jam saat ASIP dihangatkan, karena ASIP hanya boleh dikonsumsi dalam 6 jam setelah dihangatkan. Mengenai cara pemberian ASIP, kakak menyarankan agar saya tidak terlalu kaku. Saya kan maunya nggak usah pake dot. Kakak bilang, turuti aja Danisa, enaknya dia pake yang mana. Mungkin kakak juga berada dalam kondisi 'tidak siap' ternyata harus menjaga Danisa. Saya mengalah. Yang saya utamakan saat ini adalah ada yang menjaga Danisa dan memastikan ia mengkonsumsi ASIPnya.

Tibalah hari pertama saya masuk bekerja. Rasanya seperti masuk kerja untuk pertama kalinya. Senang sekaligus cemas. Oh ya, di rumah saya meninggalkan stok ASIP sebanyak kurang lebih 120 ml. Jumlah tersebut tentu kurang jika dibandingkan dengan jumlah jam saya meninggalkan Danisa. Saya mengetahui jumlah stok ASIP minimal yang harus ditinggalkan dari twit @aimi_asi. Mau saya masukkan artikal dari web AIMI tentang jumlah stok minilal ASIP, tapi web AIMI saat ini sedang under maintenance. Alhamdulillah ada artikel tentang Kalkulator Kebutuhan ASI dari web Ayah ASI kalo ada yang pengen tau stok minimal ASIP yang harus ditinggalkan di rumah.

Back to the topic. Sebelumnya, kakak bilang agar saya izin dari kantor jika nanti Danisa rewel. Maklum, selama ini kan kalo Danisa rewel, saya lah yang mengendalikan suasana. Kakak khawatir ntar nggak bisa menangani Danisa yang rewel.

Benarlah. Tepat jam 9, hp saya berbunyi. Ada panggilan dari kakak, Danisa rewel. Cusssssss, saya langsung kabur pulang. Setelah Danisa tenang, saya memandikan Danisa, kemudian menyusuinya lagi sampai ia tertidur kemudian kembali lagi ke kantor. Jarak antara rumah dengan kantor sekitar 15 menit. Jadi jika bolak-balik 30 menit saya habiskan di jalan.

Ritual ke kantor-pulang-menyusui-memandikan-menidurkan-kembali ke kantor ini kira-kira berlangsung selama 1 bulan. Saat saya sedang bersiap untuk memerah di kantor, panggilan untuk pulang kembali berbunyi. Walhasil kegiatan memerah saya jadi nggak konsen. Baru dapet 20 ml, pulang... Dan lama-lama, perjalanan bolak-balik kantor-rumah-kantor itu melelahkan juga.

Saya stres memikirkan hasil perahan ASI saya yang tidak maksimal di kantor. Saya mengajukan argumen kepada kakak, gimana hasil perah ASI saya bisa bertambah jika jadwal memerah di kantor terganggu. Sementara 'teror' untuk memberi susu formula tak kunjung berhenti.

Di rumah, waktu saya untuk memerah juga hampir tidak ada. Saat itu jam tidur Danisa masih belum terpola. Di atas jam 12 malam, Danisa terbangun dan tidak kunjung berhenti menangis hingga subuh. Jadi ketika Danisa tertidur, saya gunakan waktu itu juga untuk beristirahat. Tidak ada semangat untuk memerah ASI.

Setelah saya ajukan argumen tadi dan demi melihat stok ASIP yang tidak kunjung bertambah, akhirnya kakak setuju saya tidak usah melakukan ritual bolak-balik rumah kantor lagi. Masalah memandikan Danisa, kakak bilang Danisa dilap aja.

Dengan waktu yang lebih luang, saya lebih konsentrasi memerah ASIP. Jadwal memerah saya adalah jam 9 dan jam 11. Saya memerah di ruang istirahat bagi teman-teman bidan. Untuk masalah tempat memerah saya bersyukur karena puskesmas punya ruangan yang bisa digunakan sebagai tempat persembunyian untuk memerah. Setidaknya ruangan yang saya gunakan tertutup dan nyaman. Kasihan dengan teman-teman di Dinas Kesehatan yang nggak punya ruangan yang bisa digunakan setidaknya untuk bersembunyi. Bayangin, Dinas Kesehatan lho, malah ga punya tempat memerah ASI :p

Back to the topic.

Alhamdulillah lama-kelamaan hasil ASIP saya meningkat. Kakak juga semakin ahli mengurus Danisa. Kakak sudah bisa memandikan dan menidurkan. Konsumsi ASIP Danisa semakin meningkat. Dari yang biasanya stok ASIP selalu bersisa, kemudian saya yang harus mengejar stok ASIP karena Danisa selalu menghabiskannya. Danisa menggunakan dot untuk menghabiskan ASIPnya. Meskipun dalam hati saya nggak sreg, kakak bilang: yang penting Danisa minum ASI-nya. Alhamdulillah Danisa nggak pernah mengalami bingung puting. Mungkin Allah memudahkan usaha saya dalam memberi ASI Eksklusif buat Danisa :)

Saat memerah, ada kalanya saya mendapat hasil yang memuaskan, ada kalanya juga malah nggak sesuai harapan. Tentang wadah untuk menyimpan ASIP, kalo ngeliat pic di twit @aimi_asi, para busui disana menggunakan botol kaca, bukan botol dot plastik seperti yang digunakan teman-teman saya sesama pelaku ASI Eksklusif. Saya sampai mengira botol kaca itu dibeli di apotik.

Ternyata eh ternyata, setelah browsing dan tanya sana-sini, akhirnya saya tau kalo botol kaca itu adalah botol minuman vitamin C UC1000. Oh iya, tutupnya saya ganti pake tutup botol plastik. Setelah nyoba-nyoba, botol UC 1000 cocok sama tutup botol plastik Nutrisari. Agak gak pas kalo sama tutup botol Pocari Sweat.

Kenapa pake botol kaca bukan plastik? Ya karena bahan kaca adalah media yang paling aman untuk menyimpan makanan, tidak mudah berubah materi jika terkena suhu ekstrim seperti halnya plastik. Bisa aja sih pake botol dot plastik, pastikan food grade. Tapi kalo ada dan bisa mengusahakan yang lebih baik kenapa nggak? :)

Jadi, alat perang yang saya bawa untuk memerah berupa:
1. Tas plastik kecil yang awalnya dipake buat tempat toiletriesnya Danisa
2. 2-3 botol kaca.
3. Tisu (buat ngelap-ngelap ASI yang netes)
4. Bolpoin/spidol (buat nulis tanggal dan jam pemerahan ASIP di stiker)
5. Stiker harga yang ukuran paling kecil
6. Plastik es ukuran 1/4 kg (buat mbungkus botol kaca yang udah terisi ASIP)
7. Antis atau sejenisnya (in case saya nggak nemu sabun buat cuci tangan)

Semuanya saya taruh dalam wadah tas kecil. Saya menggunakan tas kecil dari Zwitsal yang awalnya berfungsi sebagai tempat sabun dan shampo. Sumber daya yang tersedia ya adanya itu, jadi dimanfaatkan saja...

-to be continued-

Sabtu, 02 Maret 2013

Mohon Dibaca Jika Suatu Hari Nanti Anda Jadi Pejabat :))

Amat sangat sering, wilayah kerja Puskesmas tempat saya bertugas kedatangan tamu. Dari kunjungan lapangan, baik itu mahasiswa maupun pelatihan tenaga kesehatan, para dokter spesialis, ibu-ibu persatuan dari instansi baik itu pemerintah maupun swasta, dan tentu saja pejabat.
Menurut saya, banyaknya kunjungan itu disebabkan oleh kondisi masyarakat di wilayah kerja Puskesmas. Masih inget kan booming kasus gizi buruk di NTB sekitar tahun 2005? Penderita gizi buruk yang pertama kali terekspos ke media asalnya ya di wilayah kerja Puskesmas tempat saya bertugas sekarang. Hingga saat ini pun, wilayah kerja Puskesmas ini masih menjadi penyumbang terbesar kasus gizi buruk di Mataram.

Kondisi mayoritas masyarakat juga masih berada pada status ekonomi ke bawah. Bisa disebut miskin. Hal inilah yang menjadi 'daya tarik' wilayah kerja Puskesmas tempat saya bertugas menjadi sasaran empuk untuk dikunjungi banyak pihak.

Kali ini, salah satu lingkungan akan kedatangan tamu lagi. Roadshow Tim Penggerak PKK Prop.NTB dan Kota Mataram akan mengunjungi lingkungan Mapak Belatung. Kegiatan ini diorganisir oleh pihak kecamatan. Puskesmas 'hanya' bertugas menyiapkan data hasil program posyandu, serta melaksanakan pemeriksaan dan pengobatan pada lansia.

Selasa, 26 Februari 2013

Tentang Menilai

Sebagai makhluk sosial, salah satu aplikasinya adalah kita memberi penilaian terhadap orang lain. Kita menilai dari cara berpakaian, dari cara berbicara, dari kendaraan yang digunakan, bahkan dari merek sepatu yang dipake.

Kebanyakan dari penampilan luar? Sepertinya manusia dikaruniai sifat untuk menilai orang lain dari tampak luarnya. Meskipun banyak yang berteriak: DONT JUDGE A BOOK BY ITS COVER, tapi  mau gimana lagi. Kebanyakan manusia emang cara menilainya seperti itu. Jadi ya..dimaklumi saja :)