Senin, 30 September 2013

Test Pack Positif, Trus Ngapain??




 Niat awal bikin tulisan ini adalah ingat bahwa selama hampir 3 tahun saya menjalani peran sebagai seorang ibu, begitu banyak hal yang saya pelajari. Sebenarnya, begitu kita divonis positif hamil oleh hasil test pack (dan selanjutnya disampaikan oleh bidan atau dokter), saat itu jugalah diri kita sebagai perempuan 'berubah'.

Jangankan bentuk tubuh dan ukuran baju, perilaku kita pun juga bisa berubah. Dari yang ngiler biasa aja kalo ngeliat dagang bakso lewat, sekarang pas hamil bisa ngileeeeeerrrr luar biasaaaaa banget. Labelnya sih perilaku kayak gitu itu 'ngidam'. Kalo nggak terpenuhi, biasanya ntar ngerengek-ngerengek sama suami dengan ancaman "nanti anaknya jadi ileran lho."

Klasik banget.

Sebenenernya ancaman "ntar anaknya jadi ileran" itu siapa yang mulai sih?

Baiklah. Ancaman anak ileran tidak usah dibahas panjang-panjang. Yang saya tulis nanti sifatnya hanya sekedar berbagi yang saya rasakan waktu kehamilan Danisa. Siapa tau teman-teman di luar sana punya pengalaman yang sama ;)

1. Segera periksa ke tenaga kesehatan
Tenaga kesehatan yang kompeten buat memeriksa kehamilan ya bidan atau dokter ahli kandungan. Terserah mau periksa dimana. Keduanya tentu punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tujuan segera periksa ini untuk memastikan vonis positif dari test pack tadi. Kalo tenaga kesehatan yang bilang kan jadinya lebih yakin ya. Selain itu, tujuan segera periksa ini adalah untuk mengetahui resiko pada kehamilan, misalnya ibu yang berusia di atas 35 tahun atau kehamilan dengan penyakit penyerta misalnya pada penderita diabetes. Jadi dari awal ibu sudah tau resiko apa yang akan dihadapi dengan kehamilannya dan bersiap mencegah kemungkinan buruk yang akan terjadi.

Kalo pilih-pilih tenaga kesehatan (biasanya dokter kandungan), ya boleh juga. Memilih berdasarkan tarif, gaya komunikasi, atau tingkat kegantengan, monggoooooo... Menurut saya tidak perlu fanatik pada satu dokter. Dulu, karena ujung-ujungnya ngerasa nggak nyaman dengan dokter yang satu, pada usia kandungan 7 bulan saya memutuskan pindah ke dokter yang lain. Tapi kalo udah nyaman dengan 1 dokter, sebaiknya konsisten periksa di dokter tersebut.

Kadang saya numpang periksa juga di temen-temen bidan. Lumayan dapet suntik TT gratis, tablet besi gratis, asam folat gratis, hehehehehe....

2. Buka wawasan, belajar lagiiiiiii.....
Meskipun hamil adalah peristiwa alamiah dalam kehidupan, itu bukan berarti kita dieeeeem aja ngeliat perut yang makin besar dari hari ke hari. Ibu yang sehat akan melahirkan bayi yang sehat. Menjaga kesehatan selama hamil bisa dilakukan dengan mencari informasi kesehatan ibu hamil. Jaman sekarang nggak susah kan buat nyari what do's and don'ts-nya ibu hamil, perkembangan janin dari bulan ke bulan, tanda-tanda bahaya pada ibu hamil, dan lain sebagainya.

Hape kan udah pada smart, jadi informasi semakin mudah didapat. Misal kita bingung boleh nggak sih ibu hamil makan nanas? Boleh nggak ibu hamil ikut pertandingan sepakbola antar kampung? Nah, silahkan coba tanya pada Google.

Tapi nggak semua informasi yang beredar kita serap mentah-mentah. Contohnya iklan susu ibu hamil yang begitu gencar tampil di media massa. Seakan ibu hamil itu wajib minum susu. Padahal kan nggak. Waktu hamil Danisa saya minum susu ibu hamil yang mengklaim diri mampu mengurangi mual. Hasilnya, saya selalu muntah di trimester awal. Sekarang aja saya baru tau kalo manusia itu sebenarnya nggak butuh susu lain selain ASI.

Kalo di Twitter, banyak akun yang dapat dijadikan rujukan. Ada banyak akun dokter kandungan yang bisa diajak konsultasi via timeline. Ada juga akun @MommiesDaily, @infoHamil, @Ayahbunda, dan sebagainya.

3. Bersiap menghadapi mitos 


Yeaaahhhh..... Bersiaplah menghadapi mitos dari berbagai kalangan di sekitar kita. Mitos-mitos ini kebanyakan bikin kening kita berkerut. Jadi ibu hamil itu banyak mitos larangannya, pantang ini nggak boleh itu. Kalo mau disebutkan satu persatu mitos tentang ibu hamil, niscaya bisa bikin 1 karya tulis. Contoh yang paling tenar adalah ibu hamil nggak boleh duduk di depan pintu atau nggak boleh minum es nanti bayinya jadi besar. 

Naaaaahh, salah satu kegunaan poin ke-2 tadi adalah ya menghadapi mitos-mitos ini.Saya sendiri memang tidak percaya mitos. Tapi, kalo mitos itu keluar dari orang yang saya hormati, misalnya dari ibu atau ibu mertua, meskipun tidak percaya, saya berusaha mematuhinya. Dengan ketentuan mitos tersebut tidak merugikan kesehatan. Misal ada mitos ibu hamil nggak boleh makan buah, sayur. Wah, rugi banget kan kalo patuh sama mitos seperti itu. Kalo mitos (yang sekedar) ibu hamil nggak boleh mandi maghrib-maghrib, InsyaAllah bisa saya patuhi. Toh sebenernya mereka ngelarang ini itu juga karena sayang sama kita :)

4. Belajar hypnobirthing yuk...
Kenapa poin hypnobirthing ini saya masukkan tidak lain tidak bukan karena sedikit trauma dengan rasa sakit waktu melahirkan Danisa. Dengan berlatih hypnobirthing secara rutin, maka kita bisa memanajemen rasa sakit saat proses persalinan. Rasa sakit tetap ada hanya kita bisa mengendalikan diri kita untuk mengelola rasa sakit itu. Tidak hanya dalam proses kelahiran secara normal, hypnobirthing ini juga bisa dipraktekkan untuk proses caesar

Dari berbagai sumber yang saya baca, hypnobirthing ini sebaiknya dimulai sejak trimester awal. Saya mem-follow akun @infoHamil yang memang memiliki spesifikasi dalam latihan hypnobirthing.  Kalo di sekitar nggak ada kelas hypnobirthing, bisa latihan dengan membaca bukunya. Pemilik akun tersebut menulis buku tentang hypnobirthing judulnya Melahirkan Tanpa Rasa Sakit dan Mencerdaskan Bayi dari Dalam Kandungan.

Besok beli ahhhhh...

5. BELAJAR ASI DAN MENYUSUI!! INI WAJIB!! (CAPSLOCK JEBOL)
Ini belajar dari pengalaman saya menyusui Danisa. Karena merasa menyusui itu gampang, (merasa) udah tau banyak tentang ASI (ya iyalah..saya kan kuliah kesehatan gitu loh), alpa lah saya memperbaharui ilmu tentang ASI dan menyusui. Yang ada di pikiran saat itu hanya saya bertekad memberi ASI eksklusif pada Danisa. Saya nggak mempelajari bagaimana jika ASI tidak kunjung keluar? Kemudian apa yang harus saya lakukan?

Terus terang tidak ada kekhawatiran yang melintas tentang ASI dan menyusui saat saya hamil. Mikirnya, ah ASI kan pasti keluar, nyusuin kan tinggal nempelin mulut bayi ke PD ibu. Padahal NGGAK SESEDERHANA ITU PEMIRSA.

Saya beruntung menemukan akun @aimi_asi saat tengah galau menghadapi ASI yang dikatain orang sekitar kok masih sedikit keluar. Terima kasih banyak buat Andin @andinaomixxx yang sudah nunjukkin akun @aimi_asi.  Akan lebih baik lagi kalo follow akun Twitter resmi Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia tersebut sejak dini. Ohya, ada juga akun @ID_AyahASI yang bahasanya lebih koplak kalo lagi membahas seputar ASI dan menyusui :))

Kalo di kota tempat kita tanggal ada kelas edukASI, bisa ikut belajar langsung bersama konselor menyusui. Sayang banget di Mataram belum ada kelas edukASI ini. Belum punya kelompok AIMI sih :'((.

Selain itu, setelah mempelajari ASI dan menyusui, hal lain yang perlu dilakukan adalah mengkomunikasikan ke orang-orang terdekat, terutama suami, orangtua, mertua, kakak, dan adek bahwa kita ingin hanya memberi ASI tanpa makanan dan minuman lain hingga usia bayi 6 bulan. Hal ini juga yang dulu tidak saya lakukan. Walhasil saya dan bapak (mbah kakungnya Danisa) bersitegang gara-gara saya keras kepala tidak mau memberi susu formula. Alhamdulillah saya menang! Hehehehehe....

Note: Menyusuilah dengan keras kepala.

6. Berburu rumah sakit sayang bayi (RSSB)
Poin ke 6 ini adalah salah satu faktor yang membuat saya pindah haluan ke dokter lain saat usia kandungan sudah mencapai usia 7 bulan. Klinik milik dokter pertama terkenal dengan reputasi memisahkan bayi dari ibunya. Jadi bayi-bayi itu tidur di kamar bayi, nggak sekamar sama ibunya, dan diberi apalagi kalo bukan susu formula. Katanya biar ibunya bisa istirahat. Hiiiiiii...ngeri. (lebay)

Tapi, meskipun di klinik tempat saya melahirkan saya nilai pro ASI Eksklusif (sebelumnya saya nggak bertanya-tanya tentang program di klinik ini), saya tidak melalui proses Inisiasi Menyusu Dini(IMD) yang seharusnya.

Bagi yang pengen tau apa dan bagaimana rumah sakit sayang bayi, bisa baca artikel dari @aimi_asi ini.

7. Siapkan anggaran
Meskipun berstatus pegawai negeri sipil yang memiliki jaminan Askes, saya rasa setiap orangtua yang akan menyambut kehadiran anak sebaiknya menyiapkan anggaran jauh-jauh hari. Anggaran tidak hanya terkait biaya persalinan dan rawat inap, tapi juga biaya membeli perlengkapan untuk ibu yang baru melahirkan dan menyusui, perlengkapan bayi, termasuk juga biaya aqiqah.

8. Menyiapkan kebutuhan ibu
Biasanya yang disiapkan duluan kebutuhan bayi kan? Sama kayak saya dulu. Sampe saya nggak inget kebutuhan saya sendiri. Baju menyusui saya waktu awal kelahiran Danisa adalah kemeja suami! Saking saya nggak inget bahwa saya akan menyusui dan butuh baju yang nyaman untuk mendukung kegiatan itu.

Beberapa kelengkapan untuk ibu baru melahirkan antara lain baju untuk menyusui, BH menyusui, pembalut, breast pad (biar ASI nggak rembes ke baju), bantal menyusui (opsi aja), kalo mau pake stagen silahkan siapkan biar ntar nggak bingung lagi. Kalo muali masuk kantor mungkin ribet pake stagen. Bisa beli korset buat menggantikan peran stagen. Secara gitu ya perut masih bergelambir riang dengan sorak-sorak bergembira dan nggak muat masuk ke seragam kantor :D

Oh ya, buat ibu yang bekerja, bisa juga menyiapkan alat pertempuran untuk memerah ASI seperti botol kaca, cooler bag, ice pack, pompa perah kalo mau (kalo saya merah pake tangan aja), sama apron.

9. Menyiapkan kebutuhan bayi
Naaaaaaahhhhh.....bagian ini yang biasanya bikin laper mata kalo dateng ke toko perlengkapan bayi. Waaaaa....baju ini imut yaaaa... Iiiiiiihhhh..lucunya motif selimut iniiiiii...dst dll dsb. Kalo menurut saya, karena bayi cepet banget tumbuhnya, nggak usah terlalu banyak membeli baju/celana untuk masa awal kelahiran bayi. Baju, popok, celana, masing-masing 1 lusin cukup. Lagipula, nanti biasanya banyak dikasi kado baju bayi. *NGAREP

Sama halnya dengan toiletries bayi. Cukup beli sabun 1 batang aja. Sampo 1 botol aja. Nanti di antara kado-kado itu, akan terkumpul sabun dan sampo bayi yang jumlahnya bisa mencapai puluhan. Bisa buat stok selama setahun loh. *PEDE

Btw, ini pede atau pelit sih?

Danisa dulu banyak dapet baju lungsuran. Kebetulan salah satu bulek melahirkan duluan dengan jarak hampir 7 bulan dengan kelahiran Danisa. Karena bulek nggak melahirkan lagi, baju-baju sepupu saya itu diberikan untuk Danisa. Jadi tidak sia-sia bukan. Sampai saat ini, baju bayi pemberian bulek itu masih saya simpan :)))

10. Lawan rasa malas bergerak
Ketika usia kandungan semakin tua, pastilah beban tubuh ini semakin berat. Apalagi ditambah dengan kondisi hormonal ibu hamil membuat bad mood, males untuk ngapa-ngapain. Baiknya males ngapa-ngapain itu dilawan aja.

Ketika usia kandungan masuk usia 7 bulan, saya disarankan dokter untuk banyak berjalan kaki. Jalan kaki adalah salah satu olahraga yang aman untuk ibu hamil. Tapi saya males. Badan berat dibawa kesana-kemari, belum dikomentarin orang di jalan. Jangan ditiru ya.

Waktu persalinan nanti kan butuh tenaga besar. Dengan berolahraga secara rutin dapat membantu meningkatkan stamina ibu menjelang proses persalinan.

--------

Nah, udah selesai. Jadinya lumayan panjang juga ya (lumayan????). Kalo ada yang mau ditambahin, silahkan pada kolom komentar ya. Semoga bermanfaat.

(image credit: getty images)

3 komentar:

berbagifun mengatakan...

tolong donk mitos mitos kehamilan apa aja? hohoho

Erika Widiastuti mengatakan...

Asikkkkkkk, dibaca sama yang blog-nya kereeennn :p

Unknown mengatakan...

Mba,rekomendasi rs yg pro asi pro normal d mataram donk
Aku cari2 d internet minim bgt infonya
Mksh ya