Kamis, 25 Desember 2014

Teladan, Semangat, dan Dukungan untuk Cuci Tangan Pakai Sabun

Pagi itu, suasana di SDN 47 Cakranegara tampak ramai. Saya dan teman-teman mahasiswa dari Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Al Azhar (Unizar) Mataram sampai di sekolah pada jam istirahat. Kami akan melaksanakan penyuluhan cuci tangan pakai sabun di sekolah dasar tersebut. Kegiatan penyuluhan ini merupakan puncak kegiatan praktek lapangan mahasiswa semester 6 FK Unizar di wilayah puskesmas tempat saya bekerja.

Sebelum kegiatan penyuluhan ini, teman-teman mahasiswa melakukan kajian perilaku sehat di salah satu wilayah kelurahan yang dinilai memiliki paling banyak masalah kesehatan. Berdasarkan hasil kajian mereka, perilaku cuci tangan pakai sabun masih banyak belum dilakukan oleh masyarakat di kelurahan Sayang-sayang.
Bagi puskesmas, kelurahan Sayang-sayang merupakan wilayah dengan kondisi sanitasi yang tidak sebaik wilayah lain. Kondisi sanitasi tersebut juga diikuti dengan penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) yang masih rendah, termasuk perilaku cuci tangan pakai sabun.

Teman-teman mahasiswa FK Unizar kemudian memprioritaskan sasaran kegiatan intervensi pada siswa sekolah dasar. Anak-anak adalah kelompok yang paling rentan mengalami resiko masalah kesehatan akibat kondisi sanitasi dan perilaku hidup bersih dan sehat yang buruk. Jika sejak usia dini mereka sudah dikenalkan pada perilaku hidup sehat, maka besar harapan generasi mendatang akan memiliki budaya hidup bersih dan sehat pula.


14194173451496721619
foto: dok.pribadi


Dalam kegiatan penyuluhan, mahasiswa FK Unizar juga mendemonstrasikan cara cuci tangan pakai sabun yang baik dan benar kepada para siswa. Demonstrasi ini dilanjutkan dengan praktek bersama cuci tangan pakai sabun menggunakan gentong air sumbangan para mahasiswa.


1419416980125112451
foto: dok.pribadi


————–

Setelah beberapa bulan berlalu, saya kembali berkunjung ke sekolah dasar tersebut. Sebagai bagian dari wilayah kerja puskesmas, saya melakukan kegiatan pembinaan perilaku hidup bersih dan sehat secara rutin di sekolah. Saya melihat gentong-gontong air sumbangan mahasiswa FK Unizar teronggok begitu saja di halaman, seperti tidak pernah difungsikan lagi. Tidak seperti waktu demonstrasi cuci tangan bersama dulu, gentong-gentong itu berjejer rapi di depan kelas.

Waktu saya bertanya kenapa tidak menggunakannya, pihak sekolah menjawab jika gentong itu diisi maka para siswa akan menggunakannya untuk bermain-main sehingga membuat becek teras sekolah.

Saya hanya terdiam mendengar jawaban pihak sekolah. Di satu sisi, sebagai petugas dari puskesmas saya wajib untuk memberi saran agar gentong-gentong air itu difungsikan kembali. Tujuannya untuk memfasilitasi siswa agar dapat melakukan cuci tangan pakai sabun. Tapi di sisi lain, saya maklum dengan kondisi sekolah.

Sekolah dasar tersebut berada di wilayah dengan karakteristik masyarakat dengan tingkat pendidikan rendah dan golongan ekonomi menengah ke bawah. Anak-anak di sekolah itu mungkin sama dengan anak-anak lain yang senang bermain air. Masalah lain adalah mereka lebih sulit untuk diajak tertib.

Jadi, daripada kondisi halaman sekolah menjadi becek danberantakan gara-gara para siswa asyik bermain air, pihak sekolah memutuskan untuk tidak lagi menggunakan gentong air hasil sumbangan tersebut.

———————

Cuci tangan dengan sabun seringkali dianggap sebagai perilaku sepele. Padahal, dengan menjadikan perilaku ini sebagai sebuah kebiasaan, manfaatnya besar sekali untuk mencegah terjadinya penyakit, terutama penyakit infeksi pada anak-anak seperti diare. Terjadinya penyakit infeksi pada anak dapat menjadi beban bagi orangtua (sumber: disini)

Saya kemudian berkaca pada diri sendiri. Sebagai seorang petugas kesehatan, tentu saya paham betul manfaat dari menerapkan cuci tangan pakai sabun sebagai sebuah budaya hidup sehari-hari. Oleh karena itu, saya berusaha agar perilaku tersebut menjadi kebiasaan saya dan keluarga sehari-hari di rumah, termasuk pada putri saya yang masih berusia balita.

Perubahan tentu dimulai dari diri sendiri, bukan?

Setiap menjelang waktu makan, saya mengajak balita saya untuk bersama-sama mencuci tangan pakai sabun.Saya mengenalkan cara mencuci tangan pakai sabun yang benar.

Namanya anak-anak, tentu senang diajak ‘main air’. Sebenarnya, jika orangtua mau berpikir dengan positif, senang main air ini adalah pintu masuk yang bagus untuk mengenalkan anak pada perilaku cuci tangan pakai sabun. Apalagi ditambah mereka bisa bermain-main dengan busa sabunnya.

Cuma, yaaa.. itu. 

Sebagai seseorang yang sudah jauh lebih tua dibandingkan anak-anak, saya seringkali tidak sabar melihat tingkah putri saya. Dalam benaknya, tentu putri saya senang berlama-lama bermain dengan air wastafel. Kadang diselingi dengan memutar-mutar kran wastafel (ia takjub melihat air bisa mengalir dengan cara memutar-mutar kran), meminta sabun lebih banyak (sepertinya anak saya senang melihat cara kerja botol sabun cuci tangan, dipencet eh sabunnya keluar), atau malah sambil nyerocos bertanya ini itu.

“Kenapa kita cuci tangan bu?”
“Yang mana nama jempol?”
“Sabunnya rasa apa ini bu?”

GRRRRRRRRRRRRRR….!!

Kalau stok sabar tengah menipis (ditambah perut bernyanyi-nyanyi karena lapar), saya malah jadi ‘mengacaukan’ acara perkenalan cuci tangan pakai sabun itu.

“Ayo, cepetan cuci tangannya.”, disertai dengan nada tidak sabar.

Ah, bisa jadi anak saya berpikir: cuci tangan pakai sabun nggak asik karena ibunya kok malah emosi.

——

Menurut H.L.Blum (1974), derajat kesehatan masyarakat ditentukan oleh 4 faktor utama yaitu perilaku, lingkungan, pelayanan kesehatan, dan genetika. Lalu dari keempat faktor tersebut, masih menurut H.L.Blum, lingkungan adalah faktor yang paling besar menjadi penentu dibanding faktor yang lain. Lingkungan bukan hanya lingkungan fisik seperti sarana dan prasarana, tetapi juga termasuk lingkungan kimia, lingkungan biologi, lingkungan sosial, ekonomi, politik, dan budaya.

Selain sarana cuci tangan yang sudah tersedia, lingkungan sosial menjadi penentu proses pengenalan perilaku. Lingkungan sosial tersebut adalah teladan dan dukungan dari orang-orang disekitar untuk menerapkan sebuah perilaku sehat.

Ambil contoh antara saya dan anak saya. Apa guna sarana cuci tangan yang sudah tersedia di rumah jika ia tidak diberi teladan dan dukungan dari orang-orang di sekitarnya? Atau yang lebih parah anak saya melihat ibunya keburu emosi saat mengajarkannya cuci tangan pakai sabun. Saya sendiri tidak yakin anak saya akan mau menerapkan perilaku cuci tangan pakai sabun hanya dengan mendengar saya menyuruhnya untuk melakukan itu.

Children have never been very good at listening their parent, but they have never failed to imitate them. ~ James Baldwin

Untuk mengenalkan dan membiasakan anak-anak pada perilaku cuci tangan pakai sabun, tidak hanya berhenti pada usaha menyediakan sarananya. Tidak hanya selesai pada acara penyuluhan atau kampanye sehari. Teladan, dukungan, semangat yang tiada putus dari orang-orang di sekitar anak sangat dibutuhkan untuk menguatkan perilaku sehat ini.

Memang tidak mudah, seperti halnya saat stok sabar saya menipis menghadapi tingkah main air anak saya. Pasti akan membutuhkan waktu yang tidak sebentar, bertahun-tahun mungkin. Satu hal yang harus kita ingat, inilah usaha untuk mencegah anak-anak Indonesia dari ancaman penyakit infeksi yang beresiko pada kematian. Inilah usaha membangun dan membentuk generasi masa depan, generasi #brightfuture yang sehat dan kuat.


14194176761910932093
sumber: Facebook Anak Juga Manusia




Referensi: Notoadmodjo, Soekidjo. 2007.Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Jakarta. Rineka Cipta.

ps: Tulisan ini saya ikutsertakan dalam lomba Ayo Tulis Ceritamu untuk Indonesia Sehat!

Minggu, 30 November 2014

The Hardest Arithmetic



Saat sedang iseng berselancar di Facebook, saya tertarik membaca status seorang teman. Status teman saya itu intinya menghitung pendapatan yang ia dapatkan sebagai seorang PNS tidak sebanding dengan biaya yang harus  dikeluarkan untuk keperluan hidup sehari-hari. Dalam status tersebut,  teman saya menyebut pendapatannya sekitar 3 juta rupiah. Oh iya, teman saya ini seorang pria dan belum menikah.

Jadi lakik kok ya rempong toh ya? :D :D

Saya sendiri ribet membaca status temen saya itu. Penuh dengan hitung-hitungan jenis biaya hidup sehari-hari. Maklum, pihak sini kan udah berumah tangga. Jadi udah lumayan mahir tiap hari puter otak belanja buat kebutuhan rumah. 

Saya kemudian berkaca pada diri sendiri. Sebagai sepasang suami istri PNS yang sebagian gajinya sudah dipotong bank, saya dan suami merasa gaji kami tak cukup membiayai hidup hingga akhir bulan. Tanggal 15 itu gaji sudah tinggal tersisa 10% aja. 

Kalo dipikir pake hitungan logika: Lha, 15 hari lagi keluarga saya makan pake apa? Kembang depan rumah?

Saya dan suami sering ngobrol, bercerita tentang kondisi keuangan keluarga kami. Mau ini nggak cukup, pengen itu nggak ada duit. Tapi ujung-ujungnya, kami berdua selalu jadi bersyukur dengan apa yang sudah kami miliki sekarang. Lupa deh sama keluhan-keluhan tadi :)

Bukan bermaksud sombong. Meski gaji habis di tengah bulan, meski kami nyaris nggak punya tabungan, setidaknya kami punya rumah yang sehat dan nyaman. Upsss..belum sepenuhnya ‘punya’ sih. Itu rumah masih mengangsur di bank untuk 13 tahun ke depan :D. 

Kalo ngomong masalah rumah ini, saya sampai sekarang nggak bisa berpikir: darimana saya dan suami punya keberanian untuk memperjuangkan rumah ini?
Ya itu tadi, kalo dihitung-hiitung dengan logika, gaji kami nggak bakal cukup untuk memperbaiki rumah sampai jadi rumah yang sehat dan nyaman untuk  ditinggali. Standarnya sehat dan nyaman aja yaaaa.. Nggak pake mewah.. :D :D :D

Alhamdulillah orangtua kami amat membantu. Jadi jangan dikira abis nikah kita bakal jalanin hidup mandiri sepenuhnya lepas dari orangtua. Itu buktinya Bapak, Ibu, dan Ibu mertua membantu keuangan saya dan suami untuk memperbaiki rumah
.
Selanjutnya, alhamdulillah kami punya kendaraan yang nyaman.Nyaman untuk standar kami lhooooo.. Seenggaknya bisa melindungi dari hujan dan bisa jalan dengan lancar.

Alhamdulillah saya punya bibik yang menjaga Danisa dengan baik saat saya meninggalkan rumah untuk bekerja dan alhamdulillah saya masih bisa membayar gaji bibik tepat waktu.
Alhamdulillah saya bisa melunasi tagihan air, tv, dan listrik setiap bulan.
Alhamdulillah masih bisa menyisihkan gaji untuk zakat.
Alhamdulillah bisa mengajak Danisa dan bibik jalan-jalan melihat keindahan pantai di Lombok. Kalo nggak ya ajak Danisa mancing ikan plastik di Taman Udayana pun udah bikin Danisa melonjak gembira.
Alhamdulillah kami masih bisa wisata kuliner di tempat makan favorit kami, kalo nggak seminggu sekali ya sebulan sekali lah :D :D :D

Pada akhir bulan, apakah keluarga saya hidup sekarat atau jadi penderita busung lapar karena nggak makan?

Alhamdulillah… Kami sekeluarga tetap sehat dan menjalani aktivitas seperti biasa.

Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?


Ah, teman saya itu sepertinya belum kenal supir di kantor saya. Pak Amir namanya. Sebagai seorang pegawai kontrak, pak Amir tidak punya penghasilan dengan standar sebagaimana seorang PNS. Penghasilan pak Amir dari kantor cuma 400 ribu rupiah. Kesibukan pak Amir sebagai satu-satunya supir di kantor melebihi kesibukan seorang PNS. Mengantar tim posyandu, mengantar petugas yang mau penyuluhan ke sekolah, merujuk pasien, sampai mengantar bos yang pengen nyari printer buat kantor.

Saya yakin. jauh di dalam lubuk hati pak Amir, ia pasti ingin punya status Pegawai Negeri Sipil.

Saya sempat ngobrol dengan pak Amir, menanyakan kehidupannya sehari-hari. Saya kaget begitu tau anak pak Amir jumlahnya 4 orang dan yang paling sulung saat ini hampir lulus Madrasah Aliyah. Istri pak Amir kerja apa? “Istri saya ya ibu rumah tangga biasa..”, pak Amir menjawab dengan santai seperti di pantai.

Helllllloooooo… Itu gaji 400 ribu gimana bisa mau ngidupin 4 orang anak?????

Lalu, apakah anak-anak pak Amir menderita gizi buruk? Ternyata: Nggak tuh.

Pak Amir? Apakah tetap ia lantas menjadi kusut kurus kering serta selalu bermuram durja?

Nggak. Pak Amir kami kenal sebagai pribadi yang rajin, disiplin, ramah, dan suka bercanda :)

Mungkin begitu lah yang namanya rezeki. Tidak bisa kita menghitungnya jika memakai logika matematika 1 + 1 = 2. 

“The hardest arithmetic to master is that which enables us to count our blessings.” ― Eric Hoffer

Tapi bukan berarti lalu kita ongkang-ongkang kaki dan punya gaya hidup yang semena-mena dengan berkilah “ah entar ada rezeki yang dateng..”. No pain no gain lah ya. Kalo pengen punya hidup dengan standar yang lebih tinggi, ya silahkan berusaha lebih keras untuk mendapatkan uang lebih banyak.

"Gaji berapa pun cukup, asal gaya hidup lo nggak ketinggian." ~ ngutip dari FB

Kemudian, setelah meribetkan diri sendiri dengan status teman itu, saya membaca komen-komen yang tertera di bawahnya. Ternyata teman saya itu sedang mengkritik himbauan hidup sederhana untuk jajaran kementerian. 

Ealah… 

Udah aja saya jadi berpikir kemana-mana sampe jadi tulisan sepanjang ini :p



Selasa, 26 Agustus 2014

A Complete Dedication

Suatu siang, entah kesambet apa saya nyari-nyari masalah sama petugas keamanan.

Jadi ceritanya begini.

Saya datang ke sebuah lembaga keuangan milik pemerintah di Mataram. Begitu ingin keluar, motor saya dihentikan oleh petugas keamanan setempat. Beliau meminta karcis saat masuk tadi. Saya bingung, karena saya tidak menemui siapa-siapa saat masuk gerbang tadi.

"Ya sudah. Kalau begitu, mbak jalan lewat bawah terus minta karcis di pos depan sana.."

Saya ingat waktu saya parkir tadi. Ada seorang bapak yang berjalan ke pos depan. Saya sempat mikir: tuh bapak ngapain jalan ke situ?

Diminta seperti itu, saya sedikit kesal. Saya merasa tidak melakukan kesalahan tapi disuruh untuk mengambil karcis kembali.

Apakah pos depan itu jauh? Relatif. Saya termasuk orang yang senang jalan kaki. Tapi untuk alasan seperti ini, saya tidak setuju. Bukan salah saya kan.

Tiba di pos depan, saya bertanya sama petugasnya:

"Pak, kok tadi waktu masuk saya nggak dikasih karcis?"

"Tadi kita sudah manggil-manggil mbak, tapi mbaknya nggak denger.."

Saya mengingat-ingat proses di gerbang tadi. Tidak ada halangan sama sekali jadi saya langsung masuk. Kalau saya tidak mendengar saat dipanggil, ya jelas saja. Saya pakai helm full face dan saya yakin petugas itu memanggil saya dari dalam posnya, pos yang hampir seluruh bagian depannya tertutup kaca berwarna hitam.

Mana saya bisa ngeh kalo ada orang disitu? Apalagi manggil saya?

Saya sampaikan argumen bahwa saya tidak mendengar saat petugas memanggil saya.

"Loh mbak harusnya tahu peraturan kalo ada portal harus berhenti dulu."

Oh ok, saya baru ngeh kalo ada portal di pos masuk. Tapi waktu masuk tadi, itu portal nggak menghalangi saya buat masuk kok.

"Iya mbak, soalnya portal itu langsung membuka waktu ada yang hendak lewat."

Oooooo.... Jadi salah saya kalo saya tetap masuk?

Lebih keren portal Gramedia keleus.

Ya udah. Saya ambil karcis dan menuju pos belakang.

Sambil menyerahkan karcis, saya berkata pada petugas keamanan di pos belakang:

Saya (Sy): "Kalo bisa sistem parkirnya diperbaiki lagi Pak.."

Petugas keamanan langsung mengacungkan karcis saya sambil bertanya:

Petugas (Pt): "Mbak pikir mbak ini siapa kok nyuruh-nyuruh kantor ini memperbaiki sistem parkir?"

(Oooooo...jadi bapak pikir sistem di kantor bapak sudah sempurna?)

Sombong sekali.

Sy: "Lho, saya cuma ngasih saran dan masukan Pak. Saya tadi melihat ada juga yang seperti saya."

Pt: "Sistem ini dijalankan sudah lama, nggak cuma hari ini saja." (sambil tetap mengacungkan karcis saya)

(Memangnya saya tiap hari kesini, sampe jadi (mestinya) tau kalo sistem ini sudah lama diterapkan?)

Sy: "Maksud saya, kalo bisa diperbaiki sistemnya Pak. Tadi saya nggak lihat ada portal, nggak denger kalo ada petugas yang memanggil saya. Kenapa nggak gini aja, petugas ada yang standby di depan pos. Jadi kalo ada yang lewat bisa dihentikan."

Pt: "Mbak ini kan pegawai. Seharusnya tau sistem portal.."

(Saya memakai pakaian dinas harian waktu itu)
 
Sy: "Saya nggak lihat ada portal. Kata petugas di depan, portalnya langsung ngangkat kalo ada yang lewat.."

Seorang petugas berseragan polisi menghampiri perdebatan kami.

Petugas polisi (Ptp): "Masalahnya mbak ini pegawai, jadi seharusnya paham. Lain halnya kalo mbak itu petani.."

(Oooooo... Jadi petani itu dimaklumi kalo lugu nggak tau apa-apa.)

Melihat saya yang nggak mau mengalah, kedua petugas tadi memperhatikan emblem yang menempel di PDH saya:

Pt: "Dinas dimana mbak? Nanti saya laporkan."

(Ooooooo... Beraninya main lapor?)

Pt (melihat emblem lagi): "Nanti saya bisa laporkan mbak ke (sambil menyebut nama pejabat di Mataram). Gampang itu."

(Oooooooo... Beraninya main ngadu?)

Karena sudah membawa-bawa instansi, saya malas melanjutkan.

Sy: "Ya sudah kalo gitu Pak. Saya nggak mau perpanjang."

Ptp: "Loh, kalo mau kita perpanjang masalahnya mbak."

Ya ampun.

Sy: "Ya udah ya Pak. Saya minta maaf." (sambil ngacir)

-------------------------------------------------------------------------

Saya (juga) adalah seorang pelayan publik. Meski saya tidak bekerja melayani publik di depan meja, saya juga harus menerapkan sopan santun saat saya bekerja melayani publik di luar gedung kantor. Itu kejadian yang saya alami adalah sesama birokrat, sesama pelayan publik.

Sesama birokrat aja mereka arogan seperti itu. Apalagi kalo yang protes (saya kasih saran ya tadi..) itu masyarakat biasa.

Memang melayani publik itu bukan pekerjaan mudah. Pelayan publik akan menghadapi manusia, bukan hanya sekedar lembaran kertas. Pelayan publik melayani manusia dengan segala karakteristiknya.

Yang pasif, yang cerewet nggak ketulungan, yang jorok, yang bau.

Public service must be more than doing a job efficiently and honestly. It must be a complete dedication to the people and to the nation. ~ Margaret C. Smith 

Keluhan masyarakat tentang oknum pelayan masyarakat bukan cerita baru lagi ya. Waktu saya cari di google tentang pict public servant, keyword yang keluar gini:

Public servant free to be impolite.

:(


Sederhana saja. Saya membayangkan diri saya menjadi masyarakat biasa. Bukan hal menyenangkan kalo kita mendapat perlakuan yang tidak sepantasnya dari seorang yang ditugaskan menjadi pelayan publik.

Mereka digaji untuk itu kan?

Keluhan yang biasa saya dengar dari teman sesama pelayan publik: Ya abis masyarakatnya kayak gitu sih....

Hellloowwwww.... Sori ya.

Kalo Anda mengeluhkan masyarakat, siapa suruh Anda melamar pekerjaan menjadi pelayan masyarakat?










Selasa, 05 Agustus 2014

The People Who Stand By You

Lebaran tahun ini cukup berbeda. Kali ini tidak ada Mbah Uti, mbah kandung terakhir yang saya miliki. Mbah Uti sudah menghadap ke pangkuan Sang Pemilik Hidup bulan Maret lalu. Setelah Mbah Kakung (mbah dari Bapak) meninggal dunia pada tahun 1999, kemudian disusul Mbah Uti (ibu dari Bapak) pada tahun 2006, kemudian Mbah Anang (mbah dari Ibu) tahun 2007, dan terakhir Mbah Uti (mbah dari Ibu).

Jika orangtua sudah tidak ada, maka akan lebih sulit untuk mengumpulkan para saudara dan anak cucu.

Senin, 26 Mei 2014

Cinta Itu Bernama Bulutangkis



Atlet kelahiran Tasikmalaya tahun 1971 itu tampak tak kuasa menahan tangis. Saat bendera Merah Putih mulai bergerak naik, sambil terisak, ia menyanyikan bait-bait lagu Indonesia Raya. Saat itulah tercipta sejarah. Untuk pertama kalinya, Indonesia berhasil meraih medali emas dalam Olimpiade, pesta olahraga terbesar dunia. Susi Susanti, seorang atlet keturunan Tionghoa, yang mencatat tinta emas itu untuk Indonesia. Ia berhasil meraih medali emas bulutangkis tunggal putri dalam Olimpiade Barcelona 1992, setelah mengalahkan Bang Soo Hyun (Korea Selatan) di final.

Umur 21 tahun sudah dapet medali emas. Superb! (pic: getty images)

Sementara itu, nun jauh disana, beribu-ribu kilometer dari Barcelona, saya yang masih kelas 2 SD merinding menyaksikan tayangan upacara pengalungan medali Susi Susanti. Esoknya di majalah Dharma Wanita, anak kelas 2 SD itu kembali tak berkedip waktu membaca berita kesuksesan Susi Susanti mengharumkan nama Indonesia di Olimpiade.

Kalau saya inget-inget lagi, apa coba yang ada di pikiran anak umur 8 tahun? Segitunya sampai bisa merasakan kebanggaan atlet Indonesia berhasil meraih emas Olimpiade?

Tahun 1994, turnamen beregu Thomas Uber Cup bergulir di Jakarta. Lewat TVRI, lagi-lagi saya menjadi saksi mata saat tim Uber Indonesia berhasil membungkam China di partai final. Saya menyaksikan ganda putri Lili Tampi/Finarsih duduk menangis tersedu-sedu di pinggir lapangan, di tengah gegap gempita sorak sorai penonton Senayan. Ujungnya, di partai penentuan, sang bocah ajaib Mia Audina bermain cemerlang.

Indonesia berhasil merebut Piala Uber. 

Setelah itu saya selalu setia menonton di televisi jika ada tayangan pertandingan bulutangkis.
Saya jatuh cinta pada bulutangkis.

Saya rela tidur terlambat hanya untuk menyaksikan Hariyanto Arbi, sang empunya smash 100 watt beradu dengan Paul Erik Hoyer Larsen. Saya bahkan sering merapal mantra-mantra kemenangan agar Susi Susanti bisa meraih poin saat Ye Zhaoying tengah mengamuk. Di rumah, saya yang paling ribut bersorak jika atlet Indonesia meraih juara.

Ibu saya tau kesukaan anaknya. Dibelikanlah saya sepasang raket dan beberapa buah shuttlecock. Tiap berangkat sekolah, raket itu saya bawa. Waktu jam istirahat, saya bermain bulutangkis dengan segelintir teman-teman yang juga membawa raket. Tak lama, teman-teman lain makin banyak yang ikut membawa raket ke sekolah. Ramailah lapangan sekolah dengan anak-anak SD yang bermain bulutangkis.

Waktu itu, jika tidak cepat mencari lahan kosong untuk bermain, maka lahan tersebut sudah diambil duluan oleh anak kelas lain. Oh iya, sebuah shuttlecock yang kinyis-kinyis masih mulus bulunya adalah sebuah benda yang sangat berharga bagi kami. Sampe itu bulu shuttlecock rontok semua masih kami pake main lho, heheheh...

Yang penting pantat shuttlecock-nya masih bisa enak dipukul dengan raket.

Tuh pada ngebelain buat raket dengan teknologi sendiri.. :D
Tahun 1996, saat perebutan Piala Thomas dan Uber kembali dihelat, teman-teman saya di sekolah turut merasakan euforia kejuaraan bulutangkis dunia. Saat itu kami sudah menyelesaikan Ebtanas. Pergi ke sekolah hanya untuk menyelesaikan persiapan menjelang kelulusan. Teman-teman berkomentar ramai, “Ayok cepetan pulang. Nanti kan ada pertandingan Piala Thomas. Mau liat Hariyanto Arbi dengan smash 100 watt.”
Mengulang prestasi 2 tahun sebelumnya, Indonesia kembali mengawinkan piala Thomas-Uber. Bocah-bocah SD ini pun semakin bangga pada atlet bulutangkis Indonesia.

Di tahun yang sama, Olimpiade juga digelar di Atlanta, Amerika Serikat. Tumpuan Indonesia untuk meraih kembali medali emas ada pada pundak ganda putra terkuat dunia, Ricky Subagja/Rexy Mainaky. Sejak sore, media televisi (yang ada saat itu hanya TVRI dan RCTI) sudah sibuk woro-woro bahwa sebentar lagi akan terjadi pertandingan hidup mati antara Ricky/Rexy dengan musuh bebuyutan asal Malaysia, Cheah Soon Kit/Yap Kim Hock.

Semua orang bersiap-siap menyaksikan tayangan bulutangkis yang dijamin akan berjalan sangat seru dan sengit. Betapa sebuah pertandingan yang begitu dianggap maha penting. Pertandingan yang dinilai membawa harga diri dan nama Indonesia di dunia.

Saya menyaksikan momen krusial saat shuttlecock dari Ricky/Rexy tidak dapat dikembalikan oleh pasangan Cheah Soon Kit/Yap Kim Hock. Shuttlecock itu begitu saja jatuh tepat di tengah pasangan Malaysia. Cheah Soon Kit dan Yap Kim Hock sama-sama mengayun raket ke tengah hendak menjangkau bola, tapi bola sudah turun duluan ke lapangan mereka.

Rexy langsung menjatuhkan diri, terguling di lapangan.

Amat terharu melihat kedua atlet itu menangis di lapangan sambil berpelukan dengan sang pelatih, Christian Hadinata. 

Membayangkan momen ini dengan backsound lagu tema Olimpiade 1996, Reach (pic: getty images)
What a moment :’)

Sangat suka menonton bulutangkis, tentu membuat saya tertarik untuk bermain juga. Nggak di rumah nggak di sekolah saya selalu menyempatkan bermain bulutangkis. Melihat anaknya sangat tergila-gila, ibu sempat menawari saya untuk ikut berlatih di Gelanggang Pemuda Mataram. Tentu saya sangat mau. Tapi tawaran itu ditolak mentah-mentah oleh Bapak. Kata Bapak, saya sudah ikut banyak kegiatan ekstrakulikuler di sekolah. Nanti Ika capek, begitu kata Bapak. Saya cuma bisa gigit jari dan hanya memandang iri melihat anak-anak seusia saya berlatih bulutangkis di Gelanggang Pemuda.

Ya sudah lah. Saya hanya bisa menikmati bulutangkis dengan cara menonton atlet Indonesia bertanding.

Memasuki era 2000-an, bulutangkis Indonesia mengalami pasang surut. Sempat meraih Piala Thomas tahun 2002 dan meraih emas Olimpiade tahun 2000, 2004, dan 2008, setelah itu bulutangkis Indonesia lebih banyak surutnya. Tradisi emas di Olimpiade pun terhenti tahun 2012 saat jagoan Indonesia pasangan ganda campuran Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir gagal melewati babak semifinal setelah dijegal ganda China Xu Chen/Ma Jin dalam pertarungan 3 set.

Sektor putri tidak dapat berbicara banyak. Belum ada yang menyamai prestasi Susi Susanti. Bahkan belum ada yang menyamai perolehan medali perunggu Maria Kristin Yulianti pada Olimpiade 2008.

Surutnya prestasi bulutangkis Indonesia ini yang mungkin menyebabkan stasiun TV amat jarang menayangkan pertandingan bulutangkis. Buat apa ditayangkan toh atlet Indonesia suka kalah, begitu mungkin pikiran para pemilik stasiun tv. Masa-masa awal tahun 2000-an, cukup sulit buat saya untuk mengikuti perkembangan bulutangkis Indonesia. Jika diberitakan di media massa, itupun hanya sekilas.

Jaman SMA, saya justru  'lupa' akan kecintaan pada bulutangkis. Saya malah mulai tergila-gila pada Liga Italia dan menjagokan Juventus. Tiap malam Senin, sudah dipastikan saya nongkrong di depan layar RCTI menyaksikan pertandingan Liga Italia. Esok paginya saat masuk sekolah, teman-teman di sekolah sudah ramai berceloteh tentang laga Liga Italia semalam.

Beda banget sama jaman SD dulu yak.. :’)

Saat era Twitter mulai marak, bertemulah saya dengan akun-akun info bulutangkis. CLBK! Cinta lama bersemi kembali! Banyak banget akun bulutangkis Indonesia di Twitter. Mungkin Indonesia yang memliki akun bulutangkis terbanyak di dunia :D. Mulai dari akun info sampai akun fanbase atlet tertentu. Dari sini saya bisa memantau kembali perjuangan atlet bulutangkis Indonesia. Lewat admin yang ikhlas menyisihkan waktu, uang, dan tenaga untuk livescore, saya bisa tau sudah sampai mana perjalanan atlet Indonesia dalam sebuah turnamen.

Kalo tiba masanya turnamen bulutangkis, bisa dipastikan twit saya isinya bulutangkiiiiiiiiissssssssss melulu. Sampe kadang saya kehilangan follower gara-gara twit banjir bulutangkis itu, hehehehehe...

Saya juga rela menyisahkan uang untuk membayar TV berlangganan. Hanya lewat TV berlangganan saya bisa menyaksikan pertandingan bulutangkis terutama level Super Series dan Super Series Primer. Jika dulu saya hanya menyukai pertandingan yang ada atlet Indonesia-nya aja, sekarang saya menyukai semua atlet dari berbagai negara.
Sangat seru melihat kepiawaian alien-alien bulutangkis itu beradu shuttlecock. Lin Dan, Lee Chong Wei, Li Xuerui, Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi, Joachim Fischer/Christinna Pedersen, sampai yang usianya belasan tapi udah cetar membahana macem Ratchanok Intanon dan Kento Momota.

Stasiun televisi Indonesia nggak usah ditanya lah ya. Jangankan menayangkan pertandingan, isi berita olahraga aja jarang banget membahas bulutangkis. Yang ditayangkan yah tau sendiri lah. Hasil liga Spanyol, liga Inggris, hasil UEFA Cup, dan lain-lain. Oh ya, dan tentu saja menayangkan selalu berita tentang sepakbola Indonesia.

Pertandingan sepakbola yang melibatkan tim Indonesia? Nggak perlu ditanya. Jangkankan laga resmi FIFA (baru penyisihan Piala Dunia kawasan Asia) dan AFF (kelas Asia Tenggara). Laga yang ‘cuma’ persahabatan aja sampe ditayangin. *kabur sebelum disambit fans fanatik timnas.

Padahal kalo mau fair tentang prestasi kan……… *lariiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii

Ah sudah sudah….

Saya tidak membenci sepakbola Indonesia. Saya hanya iri pada perhatian media massa Indonesia yang lebih mengutamakan berita tentang sepakbola. Bagaimanapun, saya juga mencintai timnas sepakbola Indonesia dan ingin melihat mereka selalu menuai gelar juara. *salim satu-satu ke fans timnas

Meskipun prestasi bulutangkis Indonesia masih pasang surut, kini di bawah kepemimpinan Gita Wirjawan, PBSI mulai berbenah. Disana ada Rexy Mainaky, Susi Susanti, dan nama-nama lain yang pernah membawa bulutangkis Indonesia berjaya turut menjadi pengurus baru PBSI. Setidaknya PBSI mulai menuai hasil. Dua gelar juara dunia 2013 berhasil diraih setelah 6 tahun Indonesia puasa gelar. Tontowi/Liliyana berhasil 3 kali secara beruntun menjadi juara All England (2012, 2013, 2014), dan 2 gelar All England pada tahun 2014 (plus dari Muhammad Ahsan/Hendra Setiawan).

Liliyana: Hattrick broooooooo... (pic: Tempo)

Pecinta bulutangkis Indonesia pasti terus berharap atlet kebanggaannya bisa terus meraih prestasi tertinggi. Kami masih ingin melihat kebangkitan bulutangkis Indonesia, terutama di sektor putri. Bulutangkislovers rindu akan lahirnya generasi penerus Susi Susanti dan Mia Audina.

Saya dan semua pecinta bulutangkis di tanah air pasti akan selalu mendukung atlet bulutangkis Indonesia. Saya akan selalu menunggu momen-momen merinding menyaksikan perjuangan atlet bulutangkis Indonesia untuk berada di podium tertinggi.

If I could reach, higher
Just for one moment touch the sky
From that one moment in my life
I´m gonna be stronger
Know that I´ve tried my very best
I´d put my spirit to the test  
(Reach ~ Gloria Estefan)

IN-DO-NE-SIA!!


*PS: Posting ini saya tulis di tengah rasa kecewa karena Tim Thomas Indonesia gagal mencapai target juara setelah ditekuk Malaysia 3-0 di babak semifinal. Faktor mental dan semangat juang saat tim tengah tertinggal ditengarai menjadi penyebabnya. Still, we always support you, team :')








Kamis, 10 April 2014

Kenapa Saya (Keras Kepala) Memberikan ASI?

Ide untuk menulis post ini muncul ketika membaca tulisan di salah satu blog favorit saya.

“Kenapa sih benci sekali sama sufor? Dulu semua anak mami, termasuk suamimu, juga susu formula tuh dari umur 3 bulan. Buktinya dia juga bisa masuk UI sama kaya kamu, malah sekarang gajinya lebih tinggi dari kamu”*

Saya tertegun membaca serangkaian kalimat itu.

Sebagai seseorang yang teguh keras kepala berjuang jungkir balik buat memberi ASI pada Danisa dan berusaha menularkan ilmu ngASI kepada banyak orang, serangkaian kalimat tadi ibarat sebuah anak panah yang tepat menembak pada sasaran.

Tepat ke titik tengah sasaran. Makjlebbbbb!!! (gambar dari sini)

Kalimat itu benar bukan? Lebih dari kebenaran, kalimat itu adalah KENYATAAN.

"Kenapa repot memberi ASI? Toh anak saya dulu nggak ASI eksklusif juga bisa tuh jadi sarjana."
"Susah-susah amat sih mompa ASI? Anak saya dulu minum susu badannya gede gitu.. Masuk SMA favorit lagi."
"Anak tetangga cuma ASI aja toh sering sakit.."
"Anak saya dulu nggak ngASI sampe 2 tahun tapi bisa kok dapet ranking terus di sekolah.."

Waktu baru masuk dunia kerja dulu, saya pernah mendapat serangan kalimat ini. Apalah yang bisa dilakukan pegawai kinyis-kinyis masih bau kencur selain tersenyum kecut sambil mencoba menjawab pertanyaan tersebut dengan ngeles sana-sini.

Saya nggak benci susu formula. Tapi saya percaya dengan sumber-sumber seperti AIMI dan Erikar Lebang bahwa manusia nggak butuh susu hewan. Kalo memang nggak butuh, ya ngapain maksain diri buat minum susu hewan, termasuk susu formula? Gitu aja sih saya mikirnya.

Jika saya memutar ingatan, waktu Danisa lahir, saya sungguh berkomitmen untuk memberi ASI Eksklusif. Saya punya pengetahuan yang minim (malah boleh dibilang tak ada) tentang bagaimana ASI diproduksi, kenapa ASI pada hari pertama masih sedikit, bagaimana memaksimalkan hasil perahan, dan sebagainya. Saya hanya bertahan pada komitmen saya. Danisa harus lulus ASI Eksklusif. Titik.

Pertanyaan lagi. Kenapa Danisa harus lulus ASI Eksklusif?

Waktu itu, saya hanya tahu bahwa ASI adalah nutrisi terbaik untuk bayi. Terbaik dari sisi mana-nya? Kalau pertanyaan ini diajukan 3 tahun lalu, saya pasti akan menjawab secara teoritis. ASI mengandung antibodi, hormon, zat untuk perkembangan otak, AA, DHA, dan memberi ASI tidak beresiko seperti pemberian susu formula.

Teori yang sungguh tidak mudah dalam  prakteknya. As always.

Eh mudah nggak mudah itu tergantung ya. Asal tau ilmunya aja dulu ^^
 
Saya kemudian membuktikan kebenaran pepatah "dimana ada kemauan, disitu ada jalan". Mulai dari menemukan akun Twitter Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI). Pengetahuan saya tentang ASI dan menyusui menjadi terbuka lebar. Saya semakin yakin ketika melihat kesuksesan teman-teman sesama ibu menyusui lewat akun Twitter AIMI.

Mereka aja bisa, masa saya nggak?

Semakin bersemangat (dan keras kepala) lah saya.. Hehehehe...

Saya juga tak segan berkonsultasi pada teman-teman gizi di Puskesmas dan mbak Yuanna, teman di Dikes yang menjadi contoh sukses memberi ASI Eksklusif meski bekerja. Teman-teman selalu memberi saran apa yang harus saya lakukan dan memberi semangat :')

Oh ya, pernah nih saya curhat dengan teman di Puskesmas tentang tantangan yang justru datangnya dari orang-orang di rumah. Komentar teman saya itu: "Ya iyalah pendapat Erika dianggep sebelah mata. Pasti bapaknya Erika mikir, Erika aja yang nggak ASI eksklusif buktinya bisa lulus SPMB, kuliah di Unair, IPK bagus, lulus tes PNS lagi."

Eaaaaaa.... Makjleeeebbbb lagiiiiiii.... Huhuhuhuhu....

Eh, itu muji diri sendiri nggak papa kan? *senyum 5 jari :D :D :D :D :D
  
Selanjutnya, di tengah gelombang badai stok ASIP yang kejar tayang, hasil perahan tidak pernah banyak, dan 'rongrongan' untuk memberi susu formula pada Danisa, saya tetap gagah melangkah (padahal dalem hati ketar-ketir galau gundah gulana).

Tak terhitung sudah berapa kali saya menangis menghadapi kondisi di atas. Sudah berapa sesi curhat yang saya habiskan dengan suami. Saking emosinya, saya pernah menggunting sebuah artikel di koran bekas tentang resiko pemberian susu formula dan saya bilang ke seisi rumah: NIH BACA!!!

Kenapa saya begitu keras kepala?

Setidaknya, pertanyaan itu bisa (sedikit) saya jawab kini.

Alhamdulillah, lepas dari usia 2 tahun Danisa (lebih) jarang sakit. Tau sendiri kan kalo anak sakit. Kalo bisa sakitnya pindah ke kita aja sebagai ibunya. Anak sakit, pasti ibunya juga jadi 'sakit'. Kepikiran, waktu istirahat berkurang, waktu untuk bekerja juga harus dikorbankan, belum biaya yang keluar untuk pengobatan. Di jaman sekarang yang serba menuntut kedisiplinan dan prestasi kerja, tidak bisa masuk kerja itu sungguh suatu beban (buat yang nganggep beban yaaa.. Yang males sih nyantee ajaaaa..:p). Jika jaman dahulu masih banyak yang bisa kita andalkan untuk menjaga anak saat sakit, tapi tidak untuk saat ini. Mau tidak mau ibu yang harus turun tangan.

Buat saya pribadi, memberi ASI eksklusif dan diteruskan hingga 2 tahun atau lebih (Danisa menyapih saat usia 2 tahun 11 bulan) sungguh sebuah investASI. Jika investASI berupa jumlah uang yang harus dikeluarkan untuk membeli susu formula, itu relatif ya buat masing-masing orang.

Buat saya pribadi, investASI berupa uang ini sungguh-sungguh membantu. Secara gitu, gaji suami istri ini udah kepotong buat nyicil rumah. Nggak kebayang kalo harus ditambah beban biaya membeli susu formula rutin tiap bulan

Tapi investASI yang benar-benar saya rasakan manfaatnya saat ini adalah saya bisa menghabiskan waktu kerja dengan maksimal.

Apalagi sekarang Danisa tengah dalam masa yang sangat senang bermain, jalan-jalan, dan selalu kepo akan lingkungan sekitar.
Main air seharian? Ayooookkkk...
Panas-panasan di pantai sampe item? Hyuuukkk mareeee...
Berenang sampe nggak mau keluar dari air? Hajaarrr!!
Minum es sirup? Sikaaaattttt...

Saya jadi inget dulu waktu kecil selalu dimarahi kalo ketauan minum es. Padahal minum es kan enak ya.. Ntar pilek loooohhh, ntar batuk... Mungkin daya tahan tubuh saya yang cemen makanya minum es dikit aja langsung meler. Atau kalau mau pergi-pergi ditakut-takutin ntar sakit pulangnya, ntar masuk angin...

Bukan berarti juga memberi ASI itu biar anak kita jadi super. Mengutip twit Mia Sutanto, ketua AIMI:

"Memang gak semua bayi akan jd Einstein atau Superman, but if breastfeeding helps you in your parenting duties, why not??"

Btw anak yang super itu anak yang kek gimana sih? Oh, yang suka diiklanin sama susu formula itu ya? #mulaiiiiikkkkkk :D :D :D :D :D

Lebih dari itu, ngASI bukan buat sok-sok-an. Bukan agar bisa bangga karena meraih gelar anak S1, S2, S3 ASI. Bukan buat membuktikan saya adalah ibu yang hebat.

Semua ibu itu hebat.

Saya mencintai Danisa. Saya begitu mengharapkan kehadiran Danisa. Sebagai amanah dari Allah swt, saya memacu diri saya untuk berusaha sekuat tenaga memberi yang terbaik.

Masalah prestasi di sekolah, nanti kuliah dimana, pekerjaannya apa, pengahasilannya seberapa besar, biarlah itu menjadi sebuah misteri di masa depan (cieeehhh..)

Ah Danisa kenapa posenya gituuuuuuu....

*ps: maaf ya mbak Jihan, kalimatnya dari blog-nya saya edit dikiiiitttt ;)


Senin, 24 Maret 2014

Pantai Seger.. Yihaaaaa....

Awal Maret kemarin, seminggu setelah wafatnya Mbah Uti, saya dan sepupu-sepupu memutuskan jalan-jalan bareng. Awalnya kami ragu berangkat karena hitungannya kami sekeluarga masih dalam suasana berkabung. Nggak enak sama keluarga yang lain, para mbah, pakde, bude, dll. Males kan kalo nanti kami diomelin beramai-ramai. Tahu sendiri gimana gaya orang tua kalo udah ngomel.

Tapi, bukan karena saya dan adik-adik nggak sopan atau apa. Saat itu, cucu Mbah Uti yang ada di luar Lombok pulang. Nggak semua sih, tapi itupun sudah membuat kami semua senang bisa berkumpul lagi. Esthi dan suaminya Luthfi datang dari Samarinda, Fathir dari Cirebon dan Tony dari Surabaya. Rizka sama Adi yang di Malang aja yang ketinggalan nggak bisa kumpul di Lombok. Mupeng mupeng deh, mereka.... *goyangin telunjuk atas bawah.

Setelah semalaman ribut di grup whatsapp, kami sepakat untuk berbicara baik-baik dan meminta izin pergi jalan-jalan dengan 'menjual' para sepupu.  Kan kami jarang-jarang bisa ketemu ini. Dan...taraaaaaa.... Ibu pun mengizinkan. Yeeeeeyyyy... Ibu sebenernya pasti senang melihat anak-anak dan keponakannya berkumpul :)

Kami memutuskan jalan ke Pantai Seger. Ini enaknya jalan bareng orang dengan umur yang sepantaran. Yang kami cari tempat baru, bosen dong kalo kesitu lagi situ lagi. Coba kalo kami pergi dengan para tetua. Hadeeeehhh..pasti rempong bawaannya. "Disana panas, nggak ada tempat teduh. Ntar makannya gimana? Aduh..jauh..capek nanti. Nggak mau kalo ke tempat yang sepi-sepi," dan seterusnya dan sebagainya.

Pantai Seger cara bacanya ternyata bukan seperti kata seger dari kata segar. Huruf 'e' pertama dari kata Seger dilafalkan seperti 'e' pada kata 'enak'. Sedangkan 'e' kedua dilafalkan seperti 'e' pada pada kata 'elang'. Oh begitu... Ya..ya..ya...

Pantai Seger terletak di Kabupaten Lombok Tengah. Rutenya dari Mataram adalah: bypass BIL - Pantai Kuta (Mandalika) - Novotel - terus sampe ketemu jembatan kemudian belok kanan. Perjalanan dengan mobil dari Mataram kira-kira 1,5 jam perjalanan. Pantai ini juga dikenal sebagai pantai tempat penyelenggaraan event Bau Nyale. Bau Nyale dikaitkan dengan legenda Putri Mandalika, yang menolak lamaran semua pangeran di Lombok. Galau to the max pasti ya sang Putri pada saat itu..

Saya datang terlambat. Adik-adik yang lain udah duluan nyampe Pante Seger jam 9. Saya nyampe jam 10.30. Oh iya, masuk Pantai Seger bayar 10 ribu rupiah. Sepertinya itu bukan tarif resmi karena nggak ada tiket resmi juga..

Nyampe sana, Danisa udah asik aja nyebur mandi...

Dan setelah dua jam mandi pantai..Danisa nggak mau keluar dari air

Kalo udah siang, ombaknya tambah gedeee....



Ombak pantai selatan emang nggak main-main..
Pantai Seger ini memiliki pasir dengan tekstur seperti Pantai Mandalika, besar-besar seperti merica. Kalo yang punya meja ruang tamu cukli di rumah, biasanya ruang yang ada di bawah kaca meja diisi sama pasir ini. Terus dikasi hiasan kerang-kerang beraneka rupa. Eksotis lah yaa...

Ada beberapa lapak buat duduk-duduk di pinggir pantai . Hari itu pantai Seger lumayan ramai oleh pengunjung. Cuma nggak seramai Senggigi atau Nipah. Aduh, nggak banget deh sekarang kalo ke Nipah. Ruamenya itu lho.

Disini juga ada anak-anak kecil yang berambut merah, awut-awutan, kulit item (anak pantai gitu..) jualan gelang keliling, nawar-nawarin ke pengunjung. Suka maksa mereka ya jualannya. Mungkin bagi sebagian orang itu mengganggu. Saya sih karena menganggap diri pendatang di kampung mereka, ini pantai tempat mereka, saya tetap 'hormat'. Nggak ngusir-ngusir, nggak memalingkan muka, sambil ngajak mereka ngobrol: sekolah nggak, kelas berapa, dst dst... Saya membeli satu gelang. Harganya 5 ribu. Anak yang satu lagi minta saya buat beli. Biar adil katanya. Hahahaha.. Saya tolak dengan halus...

Lagi transaksi gelang...

Di sekeliling pantai Seger juga terdapat bukit-bukit. Kalo follow akun twitter yang suka pamer-pamer keindahan alam Lombok, biasanya spot foto Pantai Seger ini ada di bukitnya. Ayooo kita naikkkkk....


 Setelah nyampe atas bukit...

Subhanallah..... Pengen nyebur aja ke bawah.... Eh itu kan sama aja bunuh diri -____-

Silahkan duduk merenung di bukit ini..

Ini deket sama tempat parkir. Kok jarang ya yang mandi disini?

Lapaknya dari atas bukit...

Biar disini panasssss..tetep ceriaaa... Pemandangan tempat nongkrongnya gitu loh..

Karena pake rok, jadi mau naik-naik bukit saya mesti ekstra hati-hati. Tapi setelah naik, turunnya lebih ekstra hati-hati lagi. Mana sandal yang saya pake licin.


Huaaaa.... Ah lebay. Baru bukit. Belum Gunung Rinjani *selftoyor

Kami kesini bawa bekal makanan: nasi bungkus Sukaraja yang melegenda. Setelah selesai makan, saya dan adik-adik membersihkan bungkus-bungkus nasi bekas kami makan. Sadar diri kalo mana enak sih datang ke tempat wisata yang kotor. Yang bawa sampah juga siapa. Alhamdulillah disini disediakan tong sampah.

Duuuuuhhhh...posisi bapaknya asooyy yaa ngeliatin laut...


Spot foto Pantai Seger yang saya lewatkan adalah jembatan bambu yang panjang itu dan patung diorama yang menggambarkan Putri Mandalika mau nyebur ke laut sambil dikejar para pangeran. Lain kali deh, insyaAllah...

Sebelum pulang, kami foto bersama. Sayang nggak bisa semua kejepret. Kakak dan Luthfi harus berkorban gantian ambil foto. Kasian nggak punya tripod :D


Weekend yang sungguh bahagia. Dihabiskan di tempat yang indah dengan orang-orang tercinta. Dan tak lupa bersama nasi bungkus Sukaraja.


*ps: foto pantai Seger diatas nggak pake edit-edit. Selain karena saya nggak pinter, ribet juga mau ngedit segala. Ngepost ini aja mesti nyuri-nyuri waktu. Lombok memang indah broooo..alhamdulillah :))