Tampilkan postingan dengan label ASI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ASI. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 April 2014

Kenapa Saya (Keras Kepala) Memberikan ASI?

Ide untuk menulis post ini muncul ketika membaca tulisan di salah satu blog favorit saya.

“Kenapa sih benci sekali sama sufor? Dulu semua anak mami, termasuk suamimu, juga susu formula tuh dari umur 3 bulan. Buktinya dia juga bisa masuk UI sama kaya kamu, malah sekarang gajinya lebih tinggi dari kamu”*

Saya tertegun membaca serangkaian kalimat itu.

Sebagai seseorang yang teguh keras kepala berjuang jungkir balik buat memberi ASI pada Danisa dan berusaha menularkan ilmu ngASI kepada banyak orang, serangkaian kalimat tadi ibarat sebuah anak panah yang tepat menembak pada sasaran.

Tepat ke titik tengah sasaran. Makjlebbbbb!!! (gambar dari sini)

Kalimat itu benar bukan? Lebih dari kebenaran, kalimat itu adalah KENYATAAN.

"Kenapa repot memberi ASI? Toh anak saya dulu nggak ASI eksklusif juga bisa tuh jadi sarjana."
"Susah-susah amat sih mompa ASI? Anak saya dulu minum susu badannya gede gitu.. Masuk SMA favorit lagi."
"Anak tetangga cuma ASI aja toh sering sakit.."
"Anak saya dulu nggak ngASI sampe 2 tahun tapi bisa kok dapet ranking terus di sekolah.."

Waktu baru masuk dunia kerja dulu, saya pernah mendapat serangan kalimat ini. Apalah yang bisa dilakukan pegawai kinyis-kinyis masih bau kencur selain tersenyum kecut sambil mencoba menjawab pertanyaan tersebut dengan ngeles sana-sini.

Saya nggak benci susu formula. Tapi saya percaya dengan sumber-sumber seperti AIMI dan Erikar Lebang bahwa manusia nggak butuh susu hewan. Kalo memang nggak butuh, ya ngapain maksain diri buat minum susu hewan, termasuk susu formula? Gitu aja sih saya mikirnya.

Jika saya memutar ingatan, waktu Danisa lahir, saya sungguh berkomitmen untuk memberi ASI Eksklusif. Saya punya pengetahuan yang minim (malah boleh dibilang tak ada) tentang bagaimana ASI diproduksi, kenapa ASI pada hari pertama masih sedikit, bagaimana memaksimalkan hasil perahan, dan sebagainya. Saya hanya bertahan pada komitmen saya. Danisa harus lulus ASI Eksklusif. Titik.

Pertanyaan lagi. Kenapa Danisa harus lulus ASI Eksklusif?

Waktu itu, saya hanya tahu bahwa ASI adalah nutrisi terbaik untuk bayi. Terbaik dari sisi mana-nya? Kalau pertanyaan ini diajukan 3 tahun lalu, saya pasti akan menjawab secara teoritis. ASI mengandung antibodi, hormon, zat untuk perkembangan otak, AA, DHA, dan memberi ASI tidak beresiko seperti pemberian susu formula.

Teori yang sungguh tidak mudah dalam  prakteknya. As always.

Eh mudah nggak mudah itu tergantung ya. Asal tau ilmunya aja dulu ^^
 
Saya kemudian membuktikan kebenaran pepatah "dimana ada kemauan, disitu ada jalan". Mulai dari menemukan akun Twitter Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI). Pengetahuan saya tentang ASI dan menyusui menjadi terbuka lebar. Saya semakin yakin ketika melihat kesuksesan teman-teman sesama ibu menyusui lewat akun Twitter AIMI.

Mereka aja bisa, masa saya nggak?

Semakin bersemangat (dan keras kepala) lah saya.. Hehehehe...

Saya juga tak segan berkonsultasi pada teman-teman gizi di Puskesmas dan mbak Yuanna, teman di Dikes yang menjadi contoh sukses memberi ASI Eksklusif meski bekerja. Teman-teman selalu memberi saran apa yang harus saya lakukan dan memberi semangat :')

Oh ya, pernah nih saya curhat dengan teman di Puskesmas tentang tantangan yang justru datangnya dari orang-orang di rumah. Komentar teman saya itu: "Ya iyalah pendapat Erika dianggep sebelah mata. Pasti bapaknya Erika mikir, Erika aja yang nggak ASI eksklusif buktinya bisa lulus SPMB, kuliah di Unair, IPK bagus, lulus tes PNS lagi."

Eaaaaaa.... Makjleeeebbbb lagiiiiiii.... Huhuhuhuhu....

Eh, itu muji diri sendiri nggak papa kan? *senyum 5 jari :D :D :D :D :D
  
Selanjutnya, di tengah gelombang badai stok ASIP yang kejar tayang, hasil perahan tidak pernah banyak, dan 'rongrongan' untuk memberi susu formula pada Danisa, saya tetap gagah melangkah (padahal dalem hati ketar-ketir galau gundah gulana).

Tak terhitung sudah berapa kali saya menangis menghadapi kondisi di atas. Sudah berapa sesi curhat yang saya habiskan dengan suami. Saking emosinya, saya pernah menggunting sebuah artikel di koran bekas tentang resiko pemberian susu formula dan saya bilang ke seisi rumah: NIH BACA!!!

Kenapa saya begitu keras kepala?

Setidaknya, pertanyaan itu bisa (sedikit) saya jawab kini.

Alhamdulillah, lepas dari usia 2 tahun Danisa (lebih) jarang sakit. Tau sendiri kan kalo anak sakit. Kalo bisa sakitnya pindah ke kita aja sebagai ibunya. Anak sakit, pasti ibunya juga jadi 'sakit'. Kepikiran, waktu istirahat berkurang, waktu untuk bekerja juga harus dikorbankan, belum biaya yang keluar untuk pengobatan. Di jaman sekarang yang serba menuntut kedisiplinan dan prestasi kerja, tidak bisa masuk kerja itu sungguh suatu beban (buat yang nganggep beban yaaa.. Yang males sih nyantee ajaaaa..:p). Jika jaman dahulu masih banyak yang bisa kita andalkan untuk menjaga anak saat sakit, tapi tidak untuk saat ini. Mau tidak mau ibu yang harus turun tangan.

Buat saya pribadi, memberi ASI eksklusif dan diteruskan hingga 2 tahun atau lebih (Danisa menyapih saat usia 2 tahun 11 bulan) sungguh sebuah investASI. Jika investASI berupa jumlah uang yang harus dikeluarkan untuk membeli susu formula, itu relatif ya buat masing-masing orang.

Buat saya pribadi, investASI berupa uang ini sungguh-sungguh membantu. Secara gitu, gaji suami istri ini udah kepotong buat nyicil rumah. Nggak kebayang kalo harus ditambah beban biaya membeli susu formula rutin tiap bulan

Tapi investASI yang benar-benar saya rasakan manfaatnya saat ini adalah saya bisa menghabiskan waktu kerja dengan maksimal.

Apalagi sekarang Danisa tengah dalam masa yang sangat senang bermain, jalan-jalan, dan selalu kepo akan lingkungan sekitar.
Main air seharian? Ayooookkkk...
Panas-panasan di pantai sampe item? Hyuuukkk mareeee...
Berenang sampe nggak mau keluar dari air? Hajaarrr!!
Minum es sirup? Sikaaaattttt...

Saya jadi inget dulu waktu kecil selalu dimarahi kalo ketauan minum es. Padahal minum es kan enak ya.. Ntar pilek loooohhh, ntar batuk... Mungkin daya tahan tubuh saya yang cemen makanya minum es dikit aja langsung meler. Atau kalau mau pergi-pergi ditakut-takutin ntar sakit pulangnya, ntar masuk angin...

Bukan berarti juga memberi ASI itu biar anak kita jadi super. Mengutip twit Mia Sutanto, ketua AIMI:

"Memang gak semua bayi akan jd Einstein atau Superman, but if breastfeeding helps you in your parenting duties, why not??"

Btw anak yang super itu anak yang kek gimana sih? Oh, yang suka diiklanin sama susu formula itu ya? #mulaiiiiikkkkkk :D :D :D :D :D

Lebih dari itu, ngASI bukan buat sok-sok-an. Bukan agar bisa bangga karena meraih gelar anak S1, S2, S3 ASI. Bukan buat membuktikan saya adalah ibu yang hebat.

Semua ibu itu hebat.

Saya mencintai Danisa. Saya begitu mengharapkan kehadiran Danisa. Sebagai amanah dari Allah swt, saya memacu diri saya untuk berusaha sekuat tenaga memberi yang terbaik.

Masalah prestasi di sekolah, nanti kuliah dimana, pekerjaannya apa, pengahasilannya seberapa besar, biarlah itu menjadi sebuah misteri di masa depan (cieeehhh..)

Ah Danisa kenapa posenya gituuuuuuu....

*ps: maaf ya mbak Jihan, kalimatnya dari blog-nya saya edit dikiiiitttt ;)


Jumat, 08 November 2013

Ya terserah sih....

Kemarin saya membaca artikel di The Urban Mama. Artikel lama yang bercerita tentang perjuangan seorang ibu yang berusaha memberi ASI eksklusif untuk anaknya. Dimulai dari bayinya yang tidak mau menyusu pada putingnya yang datar, bertemu dengan konselor laktasi yang kurang menyenangkan, hingga akhirnya ia memberi susu formula saat anaknya berusia 7 bulan. Ibu itu mengeluhkan tentang pendapat orang-orang di sekitar yang seakan menyalahkannya mengapa ia memberi susu formula. Orang-orang yang ia sebut sebagai 'nursing nazis'.

Serem ya istilahnya....

Artikel tersebut banyak menuai komentar yang mendukung penulisnya. Yang membuat saya sedih adalah ketika membaca salah satu komentar dari artikel tersebut. Ada yang mengutarakan komentar seperti ini: "......toh susu formula kan bukan racun...."

:'(

Menurut pandangan saya, komentar tersebut seakan memberi 'ruang' untuk memberikan susu formula pada anak.

Iya sih susu formula bukan racun yang bikin kita tewas dalam waktu singkat. Tapi dengan mengetahui banyak masalah yang timbul di kemudian hari akibat pemberian susu formula (disadari atau nggak), saya nggak tega kalo melihat ada anak yang dikasih susu formula.

Danisa pernah merasakan susu formula. Saat itu saya putus asa dengan hasil ASIP yang makin seret saat Danisa berusia 10 bulan (ini salah saya yang tidak rajin merah ASI setelah ia berusia 6 bulan). Pertambahan berat badannya juga cenderung melambat. Ditambah waktu itu  ia ogah-ogahan makan. Yang paling bikin sedih, semua orang mengatakan Danisa kurus.

Padahal kalo sekarang saya melihat foto-foto Danisa pada waktu itu, badannya oke-oke aja kok. Di grafik KMS memang plot berat badannya berada pada grafik hijau muda. Emang nggak gemuk sih, nggak chubby yang bikin gemes kayak bayi di iklan-iklan.

Semua hal tersebut seakan memberi jalan bagi mbah kakung yang sejak awal kelahiran Danisa selalu meminta saya untuk memberi Danisa susu formula. Saya sedih. Saya tidak bisa mempertahankan keinginan saya untuk tidak memberi Danisa susu formula.

Alhamdulillah... Keinginan saya itu diberi 'jalan keluar' oleh Allah swt. Setelah hampir 2 bulan mengkonsumsi susu formula, Danisa mencret!  Karena sejak lahir Danisa jarang sakit, peristiwa mencret ini cukup membuat heboh di rumah. Yess!! Ini jadi alasan saya untuk menghindarkan pemberian susu formula sejauh-jauhnya dari Danisa.

Mbah kakungnya pun jadi berhenti menyuruh ngasi sufor. Kapok ngeliat cucu pertama kesayangannya itu mencret :))

Selanjutnya, alhamdulillah saya dipertemukan dengan akun twitter Erikar Lebang. Dari situ saya tau bahwa susu apapun selain ASI tidak diperuntukkan untuk tubuh manusia. Jadi semakin kuat buat menangkis yang nanya-nanya kenapa Danisa nggak dikasi susu formula.

Sekarang, melihat komentar "...toh susu formula bukan racun....." beneran bikin saya nyesek. Yah..mungkin ia belum tahu ya..

Dan kalo memang tetap ingin memberi susu formula, ya terserah sih.... :)

Kamis, 07 November 2013

Curhat Petugas Promkes: Bukan Konselor Tapi 'Nekad' Bikin Kelas Menyusui



Saya bukan konselor laktasi. Saya bahkan tidak pernah mendapat pelatihan apapun mengenai seluk beluk ASI dan menyusui. Saya hanyalah petugas promosi kesehatan di puskesmas yang sangat cemas melihat tren penggunaan susu formula di masyarakat. Pengetahuan saya tentang ASI dan menyusui hanya saya dapat dari pengalaman saya menyusui Danisa hingga kini usianya 2 tahun 10 bulan. Selama 2 tahun 10 bulan, saya belajar tentang ASI dan menyusui. Terhitung telat menurut saya. Seharusnya, usia saya belajar jauh lebih tua dari usia Danisa. Ya, saya baru mempelajari ASI dan menyusui secara lebih dalam saat Danisa sudah lahir.

Perasaan ‘saya bukan konselor laktasi, saya tidak pernah mendapat pelatihan mengenai ASI dan menyusui’ inilah yang menjadi ganjalan hati saya saat saya akan menjalankan program kelas edukASI di puskesmas tempat saya bekerja. Perasaan takut tidak mampu membawakan materi dengan baik terus saya pikirkan.

Kelas edukASI ini adalah usulan kegiatan yang saya ajukan di puskesmas. Sebenarnya, saya ingin di Mataram ada kelas edukASI yang diprakarsai oleh AIMI. Sedih rasanya melihat kota-kota lain sudah punya kegiatan kelas edukASI, tapi Mataram yang ibukota provinsi Nusa Tenggara Barat ini belum punya. Kalah sama Tegal dan Cilacap :(

Namun, untuk mengahdirkan kelas edukASI dengan kurikulum AIMI, tentu harus ada kelompok AIMI cabang Mataram terlebih dahulu. Bukan pesimis, tapi saya rasa untuk memulai membentuk AIMI cabang Mataram rasanya butuh waktu yang agak lama. Kebetulan, Desa Siaga kelurahan Rembiga (Desa Siaga yang sering disebut-sebut paling top se-NTB) ingin memiliki program unggulan lain selain program donor darah. KEBETULAN lagi, kelurahan Rembiga adalah kelurahan di wilayah Puskesmas yang cakupan ASI eksklusifnya paling rendah. KEBETULAN LAGI, ada dana Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) yang dapat membiayai kegiatan inovasi di masyarakat. Maka, saya ajukan usulan kegiatan kelas edukASI untuk wilayah kelurahan Rembiga.

Tantangan pertama yang muncul adalah menjelaskan maksud dan tujuan program ini karena sudah ada kelas ibu hamil - yang tentu di dalamnya sudah ada materi mengenai ASI dan menyusui. Argumentasi saya adalah kalo kelas ibu hamil, pesertanya adalah ibu hamil saja. Nah, kalo kelas edukASI ini pesertanya tidak hanya ibu hamil. Bisa suami, nenek, tetangga sekitar, ibu-ibu lain, atau para remaja. Kenapa? Karena salah satu faktor keberhasilan menyusui adalah adanya kelompok pendukung (support group) untuk ibu menyusui. Jadi, pengetahuan dan pemahaman tentang ASI dan menyusui tidak hanya dimiliki oleh ibu hamil, tapi dimiliki pula olah orang-orang disekitar ibu hamil.

Tantangan kedua adalah ego program. Saya sadar betul, masalah ASI, ASI eksklusif, menyusui, adalah bukan ranah program promosi kesehatan. Ini adalah ranah program KIA dan program gizi. Saat merencanakan dan menyusun anggaran untuk kelas edukASI ini, sebelumnya saya berdiskusi dengan teman-teman di kedua program tadi. Saya sempat merasa kesal. Kelas edukASI ini dianggap tidak perlu karena materinya sudah diberikan pada kelas ibu hamil, dianggap hanya mengulang-ulang. 

Tantangan ketiga adalah perasaan saya tadi di atas. Jujur saya minder dan takut. Bagaimana jika nanti ada pertanyaan yang tidak bisa saya jawab? Bagaimana jika saya tidak mampu menguasai materi? Bagaimana jika…….

Tapi, kegelisahan saya melihat di sekitar banyak bayi yang tidak mendapatkan haknya akan asupan nutrisi terbaik -yaitu air susu ibunya sendiri- sudah tidak bisa dibendung lagi. Semoga Allah swt memberi kelapangan dan kemudahan langkah, amiiiiinnn..

Salam ASI!

Senin, 30 September 2013

Test Pack Positif, Trus Ngapain??




 Niat awal bikin tulisan ini adalah ingat bahwa selama hampir 3 tahun saya menjalani peran sebagai seorang ibu, begitu banyak hal yang saya pelajari. Sebenarnya, begitu kita divonis positif hamil oleh hasil test pack (dan selanjutnya disampaikan oleh bidan atau dokter), saat itu jugalah diri kita sebagai perempuan 'berubah'.

Jangankan bentuk tubuh dan ukuran baju, perilaku kita pun juga bisa berubah. Dari yang ngiler biasa aja kalo ngeliat dagang bakso lewat, sekarang pas hamil bisa ngileeeeeerrrr luar biasaaaaa banget. Labelnya sih perilaku kayak gitu itu 'ngidam'. Kalo nggak terpenuhi, biasanya ntar ngerengek-ngerengek sama suami dengan ancaman "nanti anaknya jadi ileran lho."

Klasik banget.

Sebenenernya ancaman "ntar anaknya jadi ileran" itu siapa yang mulai sih?

Minggu, 28 Juli 2013

ASI, Sebuah Perjuangan (part 6): ASI Perah Kejar Tayang

Doooooohhh, ini nulis tentang perjalanan ngasih ASI ke Danisa aja judulnya kayak sinetron Tersanjung ditambah Cinta Fitri ya..

Etapi emang beneran. Perjalanan untuk memberi ASI itu emang panjang. Setidaknya buat saya sih. Niat memberi ASI juga menuntun saya untuk belajar lagi. Sampai saat ini pun, masih banyak yang belum saya ketahui tentang seluk beluk per-ASI-an. Saya memberi ASI pada Danisa juga kisahnya nggak sempurna-sempurna amat, nggak se-sukses seperti testimoni di akun @aimi_asi. Tapi semoga itu menjadi penyemangat saya untuk selalu belajar, insyaAllah..

Lanjutan dari tulisan ini, yaaaakkkk petualangan ngASI Danisa berlanjut ke babak baru: emaknya mulai ngantor dan berjuang untuk stok ASI di rumah.

Sabtu, 09 Maret 2013

Melawan Arus (1) : #KibulanSusu

Tagar #KibulanSusu ini pasti udah nggak asing buat para followers erikarlebang. Tagar ini kalo saya diterjemahkan secara bebas artinya adalah: susu itu berguna untuk kesehatan? Ngibul tuh!
Ohya, susu yang dimaksud disini adalah segala jenis susu non Air Susu Ibu (ASI). Ya susu sapi, susu kambing, susu kedelai, dan kawan-kawan. Apapun bentuknya. Formula, UHT, dan lain-lain.

Melalui twit-twitnya, erikarlebang memberi penjelasan bahwa susu sapi dan susu lainnya sebenarnya tidak diperlukan oleh tubuh manusia. Pasti banyak yang nggak setuju sama kalimat yang saya garis bawahi tadi. Reaksi mayoritas yang timbul adalah:
1. Susu kan bagus buat kesehatan. Nutrisinya lengkap!
2. Susu itu tinggi kalsium. Bagus untuk pertumbuhan saat masa kanak-kanak dan mencegah osteoporosis.

Di sini saya tidak akan menjelaskan secara ilmiah kenapa dan bagaimana susu itu sebenarnya tidak diperlukan oleh tubuh manusia. Kalo pengen tau secara lebih detil dan ilmiah, sila meluncur ke webnya Erikar aja ya, di sini.

Di sini saya hanya mencoba menuliskan apa yang ada di kepala saya dan kondisi di sekitar yang berkaitan Kibulan Susu. Siapa tahu, kondisi yang saya tuliskan nanti juga terjadi di sekitar Anda.

Awal ketertarikan saya pada #KibulanSusu adalah tentang susu formula yang tidak bisa menggantikan posisi ASI bagi pertumbuhan dan perkembangan bayi dan balita, kecuali dalam kondisi medis tertentu. Setelah mengetahui tentang ASI, ASI Eksklusif, MPASI, pola makan sehat serta menyapih ASI, keingintahuan saya bergerak ke arah ini:
Apakah setelah selesai masa menyusui (disapih), anak-anak perlu minum susu?

Senin, 04 Maret 2013

ASI, Sebuah Perjuangan (part 5): Bye Bye Cuti...

Setelah bercerita di part 4, sekarang ceritanya berlanjut tentang perjuangan memberi ASI Eksklusif berikutnya: masa cuti saya habis dan saya harus segera kembali bekerja.
Saat ini Danisa tepat berumur 3 bulan. Masa cuti saya memang pas dimulai saat saya melahirkan. Waktu lahirnya Danisa nggak diduga sebelumnya. Jadi, alhamdulillah saya punya waktu yang lebih panjang bersama Danisa di rumah.

Tapi, waktu selalu terasa cepat berlalu ketika kita menyadari sesuatu telah terlewat. Saya harus kembali ke kantor. Ada kekhawatiran meninggalkan Danisa, terutama mengenai asupan ASI-nya. Hingga saat saya akan kembali bekerja, Danisa belum mahir minum ASI perah (ASIP) dengan media apapun. Maksudnya belum mahir, Danisa nggak betah minum ASI dengan media-media itu. Kebanyakan dia mainkan, atau dilepeh-lepeh. Huhuhuhu...ASI udah capek-capek diperah malah dibuang-buang sama Danisa...

Untuk yang menjaga Dansia selama saya di kantor, saat itu saya tidak khawatir. Saya sudah dapet pengasuh? Nggak. Saya tidak khawatir karena Danisa akan dijaga oleh bapaknya sendiri. Tenang kan :D

Saat itu, kakak baru saja resign dari perusahaan tempatnya bekerja. Kakak resign karena diterima menjadi pegawai negeri sipil. Surat keputusan (SK) pengangkatan CPNS (yah tau sendiri lah..) keluarnya bisa makan waktu berbulan-bulan dari pengumuman kelulusan CPNS. Jadilah kakak di rumah menjaga Danisa sambil menunggu SK CPNS-nya keluar.

Kakak sudah saya bekali dengan keterampilan mengelola ASIP beku di freezer. Saya wanti-wanti agar memperhatikan jam saat ASIP dihangatkan, karena ASIP hanya boleh dikonsumsi dalam 6 jam setelah dihangatkan. Mengenai cara pemberian ASIP, kakak menyarankan agar saya tidak terlalu kaku. Saya kan maunya nggak usah pake dot. Kakak bilang, turuti aja Danisa, enaknya dia pake yang mana. Mungkin kakak juga berada dalam kondisi 'tidak siap' ternyata harus menjaga Danisa. Saya mengalah. Yang saya utamakan saat ini adalah ada yang menjaga Danisa dan memastikan ia mengkonsumsi ASIPnya.

Tibalah hari pertama saya masuk bekerja. Rasanya seperti masuk kerja untuk pertama kalinya. Senang sekaligus cemas. Oh ya, di rumah saya meninggalkan stok ASIP sebanyak kurang lebih 120 ml. Jumlah tersebut tentu kurang jika dibandingkan dengan jumlah jam saya meninggalkan Danisa. Saya mengetahui jumlah stok ASIP minimal yang harus ditinggalkan dari twit @aimi_asi. Mau saya masukkan artikal dari web AIMI tentang jumlah stok minilal ASIP, tapi web AIMI saat ini sedang under maintenance. Alhamdulillah ada artikel tentang Kalkulator Kebutuhan ASI dari web Ayah ASI kalo ada yang pengen tau stok minimal ASIP yang harus ditinggalkan di rumah.

Back to the topic. Sebelumnya, kakak bilang agar saya izin dari kantor jika nanti Danisa rewel. Maklum, selama ini kan kalo Danisa rewel, saya lah yang mengendalikan suasana. Kakak khawatir ntar nggak bisa menangani Danisa yang rewel.

Benarlah. Tepat jam 9, hp saya berbunyi. Ada panggilan dari kakak, Danisa rewel. Cusssssss, saya langsung kabur pulang. Setelah Danisa tenang, saya memandikan Danisa, kemudian menyusuinya lagi sampai ia tertidur kemudian kembali lagi ke kantor. Jarak antara rumah dengan kantor sekitar 15 menit. Jadi jika bolak-balik 30 menit saya habiskan di jalan.

Ritual ke kantor-pulang-menyusui-memandikan-menidurkan-kembali ke kantor ini kira-kira berlangsung selama 1 bulan. Saat saya sedang bersiap untuk memerah di kantor, panggilan untuk pulang kembali berbunyi. Walhasil kegiatan memerah saya jadi nggak konsen. Baru dapet 20 ml, pulang... Dan lama-lama, perjalanan bolak-balik kantor-rumah-kantor itu melelahkan juga.

Saya stres memikirkan hasil perahan ASI saya yang tidak maksimal di kantor. Saya mengajukan argumen kepada kakak, gimana hasil perah ASI saya bisa bertambah jika jadwal memerah di kantor terganggu. Sementara 'teror' untuk memberi susu formula tak kunjung berhenti.

Di rumah, waktu saya untuk memerah juga hampir tidak ada. Saat itu jam tidur Danisa masih belum terpola. Di atas jam 12 malam, Danisa terbangun dan tidak kunjung berhenti menangis hingga subuh. Jadi ketika Danisa tertidur, saya gunakan waktu itu juga untuk beristirahat. Tidak ada semangat untuk memerah ASI.

Setelah saya ajukan argumen tadi dan demi melihat stok ASIP yang tidak kunjung bertambah, akhirnya kakak setuju saya tidak usah melakukan ritual bolak-balik rumah kantor lagi. Masalah memandikan Danisa, kakak bilang Danisa dilap aja.

Dengan waktu yang lebih luang, saya lebih konsentrasi memerah ASIP. Jadwal memerah saya adalah jam 9 dan jam 11. Saya memerah di ruang istirahat bagi teman-teman bidan. Untuk masalah tempat memerah saya bersyukur karena puskesmas punya ruangan yang bisa digunakan sebagai tempat persembunyian untuk memerah. Setidaknya ruangan yang saya gunakan tertutup dan nyaman. Kasihan dengan teman-teman di Dinas Kesehatan yang nggak punya ruangan yang bisa digunakan setidaknya untuk bersembunyi. Bayangin, Dinas Kesehatan lho, malah ga punya tempat memerah ASI :p

Back to the topic.

Alhamdulillah lama-kelamaan hasil ASIP saya meningkat. Kakak juga semakin ahli mengurus Danisa. Kakak sudah bisa memandikan dan menidurkan. Konsumsi ASIP Danisa semakin meningkat. Dari yang biasanya stok ASIP selalu bersisa, kemudian saya yang harus mengejar stok ASIP karena Danisa selalu menghabiskannya. Danisa menggunakan dot untuk menghabiskan ASIPnya. Meskipun dalam hati saya nggak sreg, kakak bilang: yang penting Danisa minum ASI-nya. Alhamdulillah Danisa nggak pernah mengalami bingung puting. Mungkin Allah memudahkan usaha saya dalam memberi ASI Eksklusif buat Danisa :)

Saat memerah, ada kalanya saya mendapat hasil yang memuaskan, ada kalanya juga malah nggak sesuai harapan. Tentang wadah untuk menyimpan ASIP, kalo ngeliat pic di twit @aimi_asi, para busui disana menggunakan botol kaca, bukan botol dot plastik seperti yang digunakan teman-teman saya sesama pelaku ASI Eksklusif. Saya sampai mengira botol kaca itu dibeli di apotik.

Ternyata eh ternyata, setelah browsing dan tanya sana-sini, akhirnya saya tau kalo botol kaca itu adalah botol minuman vitamin C UC1000. Oh iya, tutupnya saya ganti pake tutup botol plastik. Setelah nyoba-nyoba, botol UC 1000 cocok sama tutup botol plastik Nutrisari. Agak gak pas kalo sama tutup botol Pocari Sweat.

Kenapa pake botol kaca bukan plastik? Ya karena bahan kaca adalah media yang paling aman untuk menyimpan makanan, tidak mudah berubah materi jika terkena suhu ekstrim seperti halnya plastik. Bisa aja sih pake botol dot plastik, pastikan food grade. Tapi kalo ada dan bisa mengusahakan yang lebih baik kenapa nggak? :)

Jadi, alat perang yang saya bawa untuk memerah berupa:
1. Tas plastik kecil yang awalnya dipake buat tempat toiletriesnya Danisa
2. 2-3 botol kaca.
3. Tisu (buat ngelap-ngelap ASI yang netes)
4. Bolpoin/spidol (buat nulis tanggal dan jam pemerahan ASIP di stiker)
5. Stiker harga yang ukuran paling kecil
6. Plastik es ukuran 1/4 kg (buat mbungkus botol kaca yang udah terisi ASIP)
7. Antis atau sejenisnya (in case saya nggak nemu sabun buat cuci tangan)

Semuanya saya taruh dalam wadah tas kecil. Saya menggunakan tas kecil dari Zwitsal yang awalnya berfungsi sebagai tempat sabun dan shampo. Sumber daya yang tersedia ya adanya itu, jadi dimanfaatkan saja...

-to be continued-

Selasa, 07 Agustus 2012

ASI: Sebuah Perjuangan (part 4)


Part ini tidak hanya bercerita tentang ASI buat Danisa, tapi juga kejadian-kejadian lain yang terjadi pada waktu itu. Saya percaya kejadian-kejadian ini memberi hikmah pada saya dan keluarga.

Kamis, 02 Agustus 2012

ASI: Sebuah Perjuangan (part 3)

Berhubung World Breastfeeding Week (1-8 Agustus), saya menulis lagi tentang perjalanan dan perjuangan saya memberi ASI pada Danisa.

Senin, 13 Februari 2012

Romantisnya Menyusui.. :)

Pas mau menulis ini, ada lagu romantis lagi muter di Puskesmas: If You're Not The One-nya Daniel Bedingfield. Cocok sama feeling saat menyusui Danisa. Romantis. Rasa cinta dan sayang begitu meletup-letup saat menatap Danisa menempel di dada saya. Saat itulah terasa bahwa anak adalah anugerah Allah pada setiap orang tua. Terasa bahwa anak merupakan harta yang tidak ternilai harganya.

Memang begitulah menyusui. Ia tidak hanya sekedar memberi ASI, tidak hanya memberi nutrisi terbaik untuk anak-anak kita, tapi juga mengalirkan kasih sayang. Dengan menyusui, jelas terjadi kontak fisik. Seperti yang telah kita pahami bersama, kontak fisik antara ibu dan anak akan mempererat hubungan antar keduanya. Kontak fisik yang terjadi pun tidak hanya antara mulut bayi dan dada ibu. Saat menyusui Danisa, saya membelai rambutnya, menatap matanya, mengelus alisnya, mencium keningnya, bahkan mencubiti pipinya dengan gemas. Mirip ya dengan perilaku kita saat dengan pasangan terkasih. Bahagia kan :)

Hormon oksitosin, hormon yang timbul saat perasaan bahagia hadir, akan semakin memperlancar keluarnya ASI. Menyusui memang proses yang saling timbal balik antara banyak faktor. Tapi yang memegang peranan penting dalam proses menyusui adalah kondisi psikologis ibu. Saat ia merasa bahagia, nyaman, relaks, dijamin ASInya akan lancar. Jika saya tiba di rumah setelah beraktifitas di kantor, bertemu Danisa rasa lelah itu akan menguap. Panasnya udara di siang hari akan terasa adem jika Danisa sudah bersama saya, terutama saat ia menyusui. Danisa menempel pada saya, saya peluk, kemudian saya bersandar di kamar untuk menyusui Danisa. Luar biasa adem. Panas dan lelah menguap seketika.

Mengingat bahwa menyusui adalah aktifitas yang paling dicintai oleh bayi, maka saya tidak habis pikir jika ada orangtua yang menggunakan cara-cara aneh untuk menyapih anaknya. Mulai dari mengoleskan obat puyer, memberi balsem, mengoleskan lipstik, sampai memberi jampi-jampi. Tujuannya agar anak tidak tertarik lagi menyusui. Kenapa kita tidak mencoba berada di posisi anak kita? Kita pasti kecewa jika sesuatu yang kita sukai dan cintai secara tiba-tiba 'dirampas' begitu saja. Kita dilarang untuk melakukan sesuatu yang kita sukai tersebut, dengan cara yang ekstrim. Begitu juga dengan perasaan anak-anak.

Danisa selalu kangen menyusu. Tiap saya tiba di rumah, dia pasti menangis. Dulu dia memang hanya menangis dan diam jika saya susui. Tapi sekarang karena ia sudah bisa lebih berekspresi, permintaannya untuk menyusu ditandai dengan gerakan mengobrak-abrik baju saya, kemudian menarik-narik leher baju, lalu mengintip ke dalam, hahaha...